Yuk, Jadi Pemilih yang Cerdas !

imageMinggu – minggu ini sebagian besar Ormawa KM ITS memasuki fase pergantian pemegang tonggak kepemimpinan. Sebagian besar HMJ dan BEM Fakultas menyelenggarakan pesta demokrasi tahunan pada waktu yang hampir bersamaan. Mulai dari pendaftaran calon, kampanye tulis, kampanye lisan, sampai pencoblosan dilaksanakan untuk memilih pemimpin terbaik.

Pada pelaksanaannya, kesalahan – kesalahan pada pesta demokrasi tersebut kerap kali terulang. Baik dilakukan oleh kandidat, Tim Sukses Kampanye (TSK), ataupun simpatisan. Seakan – akan, kampanye yang bersih merupakan konsep ideal yang sangat sulit diwujudkan. Sangat miris memang, pemimpin yang seharusnya jadi panutan, sebelum memperoleh posisi kepemimpinannya saja mereka sudah melakukan hal yang tidak pantas dianut.

Di masa kegalauan Tugas Akhir, saya masih menyempatkan diri untuk berbagi beberapa ulasan mengenai dosa – dosa kampanye yang terulang hampir di tiap tahunnya. Diharapkan kita semua dapat belajar dari kesalahan – kesalahan sebelumnya dan mampu menyelenggarakan pesta demokrasi dengan lebih bersih.

1. Mengobral Janji

“Saya akan mewujudkan seluruh aspirasi warga”. Emang dipikirnya pemimpin itu adalah Naga Shenlong di film Dragon Ball Z yang mampu mengabulkan segala permintaan?? Please deh, nampaknya terlalu naif jika kita masih berpikiran seperti itu.

Yaps, kesalahan pertama seorang kandidat adalah terlalu sering mengobral janji. Memang wajar bila pada semasa kampanye, para kandidat sering menyampaikan hal – hal yang menarik bagi calon pemilih. Namun, akan tidak wajar bila hal – hal tersebut hanya sekedar janji, tanpa dipikirkan feasibleatau tidaknya untuk diwujudkan pada masa kepengurusannya. Pemilih harus cerdas apakah dia seorang pengobral janji atau bukan.

2. Retorika Sempurna tanpa Dibarengi Aksi Nyata

“Saudara – saudara sekalian, saya akan (bla bla bla)”. Sungguh super sekali ya, seluruh pandangan orang yang hadir di kampanye lisan langsung tertuju padanya. Seakan – akan mereka terhipnotis oleh retorika indahnya. Padahal sih, kalau mau diteliti sedikit, makna yang disampaikan orator handal itu tidak terlalu substansial.

Lebih parahnya lagi, masih banyak dari calon pemilih yang tidak bisa lepas dari hipnotis retorikanya. Menurut mereka keberwibawaan seorang calon pemimpin ditentukan dari cara dia beretorika. Meskipun sampai kapanpun dia tidak pernah membuktikan ucapan indahnya itu. Who cares?

3. Politik Dagang Sapi (Tawar Menawar Jabatan)

“Yuk, ikut dalam tim sukses kampanyeku ajah. Ntar semisal aku terpilih, kamu aku pilih jadi kepala departemen pemberdayaan wanita”, sebuah obrolan yang terjadi antara kandidat dan calon TSK.

Lantas, apa motivasi untuk maju sebagai kandidat selama ini? Untuk mendapatkan satu baris CV yang bersinar? Untuk memperoleh kewenangan yang lebih? Atau untuk bagi – bagi “kue”? Tidak seperti itu kan. Lantas mengapa masih banyak kandidat yang pada saat menarik tim sukses kampanye, mereka menawarkan sebuah jabatan?

Bisa jadi benar pernyataan bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya teman, yang ada hanyalah kepentingan. Gimana tidak, untuk mempengaruhi sasaran agar bersedia menjadi TSK atau partisipan saja, kandidat harus mengiming-imingi sebuah “hadiah”. Harapannya mereka akan tertarik kemudian bersedia untuk diajak berjuang bersama.

Jika kandidat seperti ini terpilih, untuk mempengaruhi bawahannya dia cenderung menggunakan strategi “keju untuk tikus” (mengiming – imingi imbalan untuk melakukan sesuatu). Jim Carrey dalam bukunya “Good to be Great” menyebutkan bahwa tipikal pemimpin seperti ini adalah tipikal pemimpin yang paling rendah tingkatnya. Jika ada indikasi seperti ini, kita sebagai pemilih lebih baik memberikan pilihan kita pada kandidat lain.

4. Pertanyaan Setting-an

“Saya akan mengetes kepekaan sosial Anda. Siapa nama lengkap ibu penjual nasi ayam yang biasanya jualan di hari Kamis – Jumat di depan ruang sekretariat?”.

Dengan sedikit berpura – pura mikir, kandidat X menjawab pertanyaan tersebut dengan tepat. Kemudian si penanya menyampaikan pernyataan, “Wah, luar biasa kandidat X ini ya. Jiwa sosialnya sudah jelas terbukti”. Seluruh hadirin serentak bertepuk tangan.

Did you know? Yang terjadi di balik layar adalah terdapat kesepakatan antara penanya dan kandidat. Penanya menjelaskan pertanyaan yang akan diajukan berserta jawabannya. Pertanyaannya biasanya bersifat spesifik agar calon lain sulit untuk menjawab. Dengan demikian, hanya kandidat yang didukungnya yang bisa menjawab dengan tepat.

Hanya calon pemilih yang kurang cerdas yang terpengaruh oleh pertanyaan “ngasal” seperti ini. Calon pemilih yang cerdas seharusnya bisa mengidentifikasi seperti apa background penanyanya, pertanyaan yang tendensius atau tidak, dan pertanyaan settinganapa tidak.

5. Kampanye Hitam

Kampanye hitam merupakan fenomena yang sering dilakukan. Tidak jarang, baik TSK ataupun partisipan menyebarkan keburukan calon lainnya. Padahal, secara logika, dengan seperti itu mereka telah membuka aib kekerdilan mereka. Karena hanya orang kerdil lah, yang masih sempat untuk membicarakan keburukan orang lain.

Tidak jarang pula tiba – tiba tersebar selebaran gelap yang menjelek – jelekkan suatu kandidat. Selebaran tersebut tidak diketahui siapa yang bertanggung jawab dalam penyebarannya. Calon pemilih diharapkan dapat menyaring informasi. Informasi mengenai calon harus didapatkan dari pihak – pihak yang bertanggung jawab dalam penyebarannya.

6. Perubahan Kilat

Fenomena selanjutnya yang tidak jarang terjadi adalah tiba – tiba terlihat baik pada masa mendekati pemilihan. Yang biasanya tidak terlihat alim, tiba – tiba dia terlihat rajin beribadah, rajin melakukan amal kebajikan, dan sebagainya. Eh, ternyata semua itu ada maksudnya toh. Sebagai calon pemilih seharusnya kita peka terhadap perubahan anomali seperti ini. Apakah kita rela memberikan pilihan kita kepada seseorang yang berubah karena mengejar citra positif seperti ini?

7. Dana Tidak Transparan

Kampanye tidak lepas dari pengeluaran dana. Tidak transparannya penggunaan dana merupakan salah satu kesalahan yang dilakukan pada masa kampanye. Transparansi dana dibutuhkan agar calon pemilih mengetahui pihak mana saja yang turut mendukung perjuangan kandidat tertentu.

8. Doktrin yang Tidak Ilmiah

“Pokoknya jika kandidat X yang memegang puncak pimpinan, organisasi kita akan melejit”.

Nah, ini. Jika cara mempengaruhinya adalah dengan menyebarkan doktrin tak berlandasan, maka secara tidak langsung akan terbentuk fanatisme golongan. Yang logis dikit dunk kalau mempengaruhi orang lain. Jangan menggunakan resep “pokoknya” gitu. Sebagai pemilih, kita harus cerdas dalam menanggapi doktrin semacam ini.

Kuncinya adalah mengenali calon dengan cerdas. Jangan terlalu percaya pada apa yang disampaikan calon pada masa kampanye. Kita sebagai calon pemilih WAJIB mengenalinya melalui cara yang tepat. Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengenali calon dengan benar, antara lain:

Menanyakan kepada pihak – pihak yang pernah berhubungan dengan kandidat.

Jika kita belum mengenal kandidat secara mendalam, kita bisa menanyakan pada pihak – pihak yang pernah berhubungan dengannya. Pihak – pihak yang dimaksud bisa merupakan orang yang pernah terlibat dalam satu kepanitiaan, terlibat dalam satu tim tugas kuliah, atau yang mengenal kandidat cara mendalam. Akan lebih baik lagi, jika pihak – pihak tersebut merupakan orang yang netral dan tidak memihak untuk mendukung kandidat.

Menganalisis latar belakang kandidat dan dengan komunitas mana dia biasa bergaul.

Jika kita bergaul dengan penjual minyak wangi, maka kita akan tertular harumnya. Jika kita bergaul dengan pandai besi, maka kita terkena cipratan abunya”.

Begitulah pepatah mengatakan bahwa karakter seseorang bisa dikenali dari karakter komunitas bergaulnya. Jadi, tidak usah repot – repot mengenali kandidat secara personal, tinggal lihat dengan siapa dia bergaul, kita bisa menarik kesimpulan bagaimana karakter dominannya.

Masa depan organisasi kita ada di tangan kita sebagai calon pemilih. Semoga kita cerdas dan tidak salah dalam memilih calon pemimpin kita, karena pilihan kita menentukan masa depan organisasi kita. Selamat menjadi pemilih yang cerdas.

Rahadian Dustrial Dewandono – 5108100032
Menteri Komunikasi dan Informasi BEM ITS 2011/2012
Mahasiswa Berprestasi 2 ITS 2012

NB:
- Artikel ini tidak dibuat untuk mengarahkan masa kepada kandidat tertentu
- Artikel ini tidak dibuat untuk memperdebatkan baik buruknya sistem demokrasi

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s