Menikah Muda: Manfaat dan Tantangannya

Jatuh cinta dengan lawan jenis adalah fitrah manusia. Islam, sebagai agama yang paling memanusiakan manusia, mengakomodasi fitrah itu. Solusi yang diberikan oleh Islam adalah menikah. Dengan menikah, yang dulunya haram menjadi halal dan yang dulunya dosa menjadi pahala.

Pernikahan merupakan sebuah perjanjian teguh (mitsaqon gholidhon). Menikah berarti menggabungkan dua pribadi berbeda dengan egonya masing-masing, mempersaudarakan dua keluarga yang berbeda latar belakangnya masing-masing, dan saling memperkuat misi dakwah demi kemaslahatan umat. Di kalangan umum, pernikahan pada usia muda (20-25 tahun) masih menjadi polemik, ada yang sepakat dan ada pula yang tidak sepakat. Sebenarnya, asal kita memahami tantangannya, menikah muda akan memberi banyak manfaat.

Manfaat Nikah Muda

Menikah merupakan hal yang dianjurkan oleh agama. Banyak manfaat yang didapat dari menikah jika ditinjau dari berbagai aspek. Pada aspek spiritual, menikah dapat meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, Aspek psikologi, menikah merupakan bentuk pendewasaan yang luar biasa. Aspek biologis, menikah pada usia subur (20-30) tahun dapat meminimalisasi kemungkinan kelahiran dalam kondisi kurang sempurna. Dan pada aspek ekonomi, pernikahan akan membuka pintu rezeki. Begitu banyak manfaat yang didapat dari pernikahan.

Menikah merupakan Ibadah. Menyegerakan menikah berarti menyegerakan Ibadah.

Melaksanakan pernikahan berarti menjalankan perintah Allah.

Maka nikahilah wanita2 lain yang kamu senangi
(Qs. An Nisa’:3)

Menikah juga menjalankan sunnah Rosulullah.

… Padahal aku sendiri salat dan tidur, berpuasa dan berbuka serta menikahi wanita! Barang siapa yang tidak menyukai sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku.
(HR. Abdullah bin Mas`ud RA)

Menikah merupakan penyempurna separuh agama, dan separuh agama lainnya kita sempurnakan dengan bertakwa (HR. Thabrani dan Hakim). Sungguh tidak ada zat yang tahu kapan kita akan kembali ke pada Allah selain Allah Sang Maha Mengetahui. Dengan menyegerakan menikah, hakikatnya kita menyegerakan untuk beribadah, mumpung kita masih diberi kesempatan untuk beribadah.

Pengertian menikah sebagai ibadah juga dapat dimaknai sebagai cara untuk menghindarkan kita dari berbagai perbuatan maksiat. Melalui hadist, Rosul menjelaskan bahwa kita dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.

Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena dengan menikah dapat lebih menundukkan pandangan  dan menjaga kemaluan. Barangsiapa tidak mampu menikah, maka wajib baginya untuk berpuasa. Hal itu sebagai tameng baginya.“
( HR. Bukahri dari Ibnu Mas’ud RA)

Menikah memberikan Ketenteraman Jiwa

Secara kodrat ilahi, manusia diciptakan secara berpasang-pasangan (QS. Adz Dzaariyaat:49). Pada usia muda, laki-laki dan wanita menghadapi begitu banyak tekanan hidup. Dengan menikah akan ada istri yang menyejukkan hati dan suami yang selalu membimbing istri. Kombinasi keduanya akan selalu menenteramkan jiwa. Karena hakikatnya kita tidak akan kuat melawan kodrat ilahi.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung merasa tenteram kepadanya. Dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.
(Qs. Ar-Ruum : 21).

Belum lagi jika telah tiba kehadiran sang buah hati. Kehadiran sosok penyejuk hati (qurrota a’yun) dapat memadamkan api amarah di benak ini.

… Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. ” (QS. Al Furqon: 74)

Tidakkah kita ingat bahwa salah satu pahala yang tidak putus arusnya adalah doa dari anak yang sholeh. Dengan menikah lah, kita dapat mulai membimbing keturunan kita agar menjadi keturunan yang sholeh/sholihah.

Menikah memperkuat Ukhuwah dan Jaringan Dakwah

Hakikatnya, menikah dapat mempersaudarakan keluarga mempelai laki-laki dengan keluarga mempelai wanita tanpa memandang strata sosial atau latar belakang keduanya. Begitu juga dengan kerabat dari keduanya. Seluruh kerabat sang suami akan menjadi kerabat sang istri dan sebaliknya. Dengan menikah, akan terbangun silaturahmi di antara keduanya. Dengan menikah, akan lebih kokoh ukhuwah yang akan dibangunnya.

Semakin kokoh tali ukhuwah, semakin kuat pula jaringan dakwah yang terbentuk. Semakin jaya agama yang dirahmati Allah ini di muka bumi. Karena sebenarnya, tidak cukup suatu pepatah yang mengatakan, baitu jannati (Rumahku Surgaku). Haruslah dengan tegas dikatakan, baitu haroqi (Rumahku Pusat Pergerakanku). Pusat pergerakan dakwah Islam-ku.

Jiwa muda yang identik dengan semangat yang membara sangat cocok untuk bertugas menjalankan misi ini. Aktivitas dakwah yang digelutinya tidak begitu lama digerus waktu. Berbeda halnya, dengan yang sudah beberapa tahun bekerja sehingga meninggalkan lingkungan kampus sebagai medan dakwah. Api pergerakan cenderung mulai padam. Menikah muda dapat menambah bara api pergerakan dakwah Islam.

Menikah adalah Proses Pendewasaan yang Tak Tertandingi

Pernikahan sangat erat kaitannya dengan tanggung jawab. Bagi suami, tanggung jawab untuk menafkahi sang istri, baik secara lahir ataupun batin. Begitupun bagi sang istri, sebuah tanggung jawab untuk membina rumah tangganya. Keduanya memiliki peran dan fungsi masing-masing

Belajar yang paling efektif adalah belajar melalui pengalaman. Begitu pula belajar untuk menjadi dewasa. Pernikahan merupakan  bimbingan belajar pendewasaan terbesar yang ada di muka Bumi. Sosok anak muda yang cenderung egois dan apatis akan dituntut untuk lebih berempati dan memahami pasangan. Jika muda diidentikkan dengan foya-foya, maka jika sudah menikah kegiatan foya-foya itu haruslah ditinggalkan. Lebih baik waktu, uang, dan tenaga digunakan untuk membahagiakan keluarga. Belum lagi menangani berbagai permasalahan di rumah tangga yang pelik, kita dituntut untuk cepat belajar sehingga dapat mengatasinya. Begitulah sang guru yang bernama pernikahan mengajari kita untuk menjadi dewasa.

Menikah dapat Membahagiakan Orang Tua

“Dan Kami telah perintahkan kepada manusia (berbuat baik ) kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, dan kepadakulah kembalimu.” (Luqman: 14)

Memang benar, ridho Allah berada di ridho kedua orang tua dan kemurkaan Allah berada di kemarahan kedua orang tua. Membahagiakan orang tua adalah tugas utama bagi kita sebagai seorang anak.

Orang tua bertanggung jawab untuk menanggung seluruh biaya hidup kita. Tanggung jawab itu akan berhenti ketika sang anak telah berpenghasilan atau menikah. Jika ia wanita, maka suamilah yang bertanggung jawab untuk menafkahinya. Dengan menikah, kita dapat mengurangi beban orang tua.

Selain itu, makna menikah sebagai metode berbakti kepada orang tua adalah dengan menghadirkan seorang cucu. Calon kakek dan nenek mana yang tidak menunggu-nunggu lahirnya cucu mereka. Orang tua kita tidak sabar untuk menggendong keturunan yang sah dari pernikahan kita.

Dengan menikah muda, semakin cepat kita meringankan beban orang tua dan semakin lekas pula kita membahagiakan mereka. Saat anak pertama lahir pun, orang tua kita akan sangat gembira karena dapat menggendong cucu pertamanya.

Tantangan Menikah Muda

Memang pada kenyataannya menikah muda tidak senikmat teorinya. Begitu banyak tantangan yang menunggu para pasangan muda. Namun, jika kita sudah siap dan mampu, tantangan-tangan tersebut dapat dengan mudah kita atasi.

Kurang Siap secara Psikologis saat Menikah Muda?

Permasalahan utama tidak maunya pasangan untuk menikah muda adalah dilema akan kesiapan secara psikologis dalam menghadapi pernikahan di usia muda. Mereka menganggap bahwa usia di bawah 25 tahun merupakan usia yang belum stabil untuk menghadapi berbagai permasalahan di rumah tangga. Mereka (mungkin) takut jika mereka memaksakan untuk menikah muda, rumah tangga mereka akan semakin kacau karena ketidakdewasaan mereka.

Sebenarnya anggapan ini tidak selamanya benar. Analoginya sederhana. Bayangkan saja dengan kasus seorang wanita yang berencana memakai jilbab. Terkadang beberapa orang beralasan harus siap mental dulu baru berjilbab. Namun, sebenarnya cara yang paling efektif untuk mendapatkan kesiapan secara mental tsb adalah langsung berjilbab. Tidak usah menunggu siap. Karena berjilbab adalah ibadah.

Pernikahan adalah proses pendewasaan yang luar biasa. Dengan menikahlah kita bisa mendewasakan diri kita. Cara yang paling efektif untuk mendewasakan diri adalah dengan menikah itu sendiri. Sedikit demi sedikit pasangan suami istri akan belajar dari apa yang dialaminya. Ia tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga secara praktis. Tidakkah menikah juga merupakan ibadah?

Menikah Muda dapat Menghambat Mencari Ilmu?

Ada yang mengutarakan bahwa nikah muda akan membuat lalai dari mendapatkan ilmu dan menyulitkan dalam belajar. Sebenarnya anggapan ini tidak selamanya benar, bahkan yang terjadi adalah sebaliknya. Karena bersegera menikah memiliki keistimewaan, yakni lebih mudah merasakan ketenangan jiwa. Adanya ketenangan semacam ini dan mendapatkan penyejuk jiwa dari anak maupun istri. Dengan demikian, hal itu dapat menolong kita untuk mendapatkan ilmu. Jika jiwa dan pikirannya telah tenang karena istri dan anaknya di sampingnya, maka ia akan semakin mudah untuk mendapatkan ilmu.

Adapun seseorang yang belum menikah, maka hakikatnya kita dapat terhalangi untuk mendapatkan ilmu. Jika pikiran dan jiwa kita masih terus merasakan was-was, maka akan sulit mendapatkan ilmu. Namun, jika kita bersegera menikah, lalu jiwa kita tenang, maka secara tidak langsung kita akan lebih mudah untuk mencari ilmu. Inilah yang memudahkan seseorang dalam belajar dan tidak seperti yang dinyatakan oleh segelintir orang.

Hal ini sebenarnya sebatas permasalahan teknis, bukan prisipil. Sebagai pribadi yang terdidik dan berpengalaman, mengatur waktu bukan merupakan hal baru bagi kehidupan kita. Jika kita berhasil menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya dan membuat prioritasi agenda dengan baik, insyaAllah kita dapat mengatasi tantangan ini. Dengan demikian, kita masih mampu untuk mencari ilmu serta membina keluarga yang sakinnah, mawadah, dan warrohmah.

Karena haikatnya menikah adalah proses mencari ilmu itu sendiri. Tidak ingatkah kita tentang kisah Abu Bakar RA yang menyegerakan pernikahan putrinya, Aisyah RA. Maksud dari Abu Bakar adalah agar Aisyah dapat cepat belajar bersama suaminya, Rosulullah. Selama sang suami dapat membimbing istri dengan benar dan keduanya berkomitmen untuk mengatur waktu dengan sebaik-baikinya, maka anggapan bahwa menikah sebagai penghambat mencari ilmu dapat ditepis dengan mudah.

Menikah Muda Membebani untuk Mencari Nafkah ?

Ada juga yang mengatakan bahwa nikah muda dapat membebani pemuda dalam mencari nafkah untuk anak dan istrinya. Sebenarnya, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Pernikahan itu akan senantiasa membawa keberkahan dan akan membawa pada kebaikan. Menjalani nikah berarti melakukan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan seperti ini adalah suatu kebaikan. Seorang pemuda yang menikah berarti telah menjalankan perintah Rosul. Ia mencari janji kebaikan dan membenarkan niatnya, maka inilah sebab datangnya kebaikan untuknya. Dan ingatlah bahwa semua rizki itu di tangan Allah,

 Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.
(QS. Hud: 6)

Jika kita menikah, maka Allah akan memudahkan rizki untuk diri dan anak-anak kita.

Dan kawinilah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (untuk kawin) dari hamba sahayamu laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui
(Qs. An Nisa’ : 32 )

Dapat disimpulkan bahwa pernikahan tidak akan membebani pemuda di luar kemampuannya. Karena dengan menikah akan semakin mudah mendapatkan kebaikan dan keberkahan. Menikah adalah ketetapan Allah untuk manusia yang seharusnya kita jalani. Menikah termasuk salah pintu yang mendatangkan kebaikan bagi siapa yang benar niatnya.

Kesalahan besar jika kita tidak memikirkan perihal finansial. Ada beberapa hal yang wajib kita persiapkan. Salah satunya adalah rencana matang untuk mencari rejeki. Kita harus menyiapkan ribuan rencana cara kita menghidupi keluarga. Kita analisis kemungkinan baik dan buruk yang dapat mempengaruhi ekonomi keluarga. Semakin lengkap dan runtut rencana yang kita buat, insyaAllah semakin mudah kita merealisasikannya. Setelah itu berikhtiar. Akhirnya, biarlah Allah yang menurunkan rejekinya melalui tetesan keringat kita. Sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janji-Nya. (/dew)

(Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
(QS. Ar-Rum:6)

oleh : Rahadian Dustrial Dewandono yang sedang memperbaiki diri sembari mencari penyempurna separuh agama

11 thoughts on “Menikah Muda: Manfaat dan Tantangannya

  1. terima kasih atas tulisannya. semakin menambah keyakinan saya untuk segera menikah. semoga membawa keberkahan :)

  2. saya izin reblog bang.. :)

  3. minta ijin nge-share ya min :P

  4. Galau min , klo orangtua ga nge-restuin gimana ?

  5. ┎_⌣̩̩̀) pengen segeraaa nikah… Nice blog kak. Semoga اَللّهُ segera mempertemukanya. (˘ʃƪ˘) amiin

  6. Ty bray atas info nya. Artikel nya sangat meNarik dan sangat bermanfaat.

  7. alifalba381@yahoo.com

    sip jos

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s