Perang Badar ala Mahasiswa Muslim

imagePerang Badar merupakan salah satu contoh perang akbar pada jaman Nabi. Pada perang tersebut, sejumlah 313 orang pasukan muslim berperang melawan 1000 bala tentara Quraisy. Secara logika, perbandingan jumlah bala tentara tidak seimbang. Quraisy menang telak dalam kuantitas. Akan tetapi, pada kenyataannya, pasukan Muslim berhasil menang karena kecerdikan dan kegigihannya serta ridho dari Allah Swt.

Saat ini, jika kita mendengar kata perang, maka secara otomatis kita akan terbayang akan pertempuran, perkelahian, pertumpahan darah, dan semacamnya. Padahal, perang sendiri hakikatnya adalah melawan suatu keburukan. Istilah perang sangat dekat sekali artinya dengan istilah perjuangan. Tidak sekedar berperang secara fisik, akan tetapi juga berperan secara pemikiran dan psikis. Dibutuhkan kecerdikan dalam penyusunan strategi dan kegigihan dalam berjuang untuk memenangkan suatu peperangan.

Dalam hadist, Rosul pernah bersabda bahwasanya terdapat perang yang lebih besar daripada perang Badar. Kemudian sahabat bertanya apa perang itu. Kemudian Rosul menjawab perang tersebut adalah perang melawan hawa nafsu. Hawa nafsu merupakan hal yang manusiawi. Jika kita berhasil melawan hawa nafsu, maka kita mendapat kebaikan yang lebih besar daripada menang saat perang Badar sekalipun.

Sebagai mahasiswa, banyak hal yang bisa kita perangi dalam kehidupan kita sehari – hari. Rasa malas, rasa kurang produktif, rasa minder, rasa menunda – nunda, rasa marah, dan sebagainya. Jika kita berkaca pada perang badar, maka kita bisa mengambil hikmah pada implementasi kegigihan dan kecerdikan dalam menyusun strategi.

Dalam bidang akademis, mahasiswa harus bisa menjalankan amanah akademis dengan optimal. Memahami materi perkuliahan, mengerjakan tugas, melakukan riset dan analisis, semua itu merupakan tantangan mahasiswa dalam urusuan akademisnya. Berperang, atau lebih tepatnya, berjuang dalam bidang akademis merupakan kewajiban yang paling utama yang harus dilakukan oleh mahasiswa.

Dalam kesehariannya, mahasiswa tidak hanya disibukkan oleh masalah – masalah akademis. Mahasiswa tidak luput dari kemelut sosial serta serta politik. Mahasiswa yang masuk dalam katagori seorang aktifis adalah mahasiswa yang menyibukkan dirinya dalam kegiatan – kegiatan yang bersifat sosial. Banyak sekali tantangan yang harus dihadapi oleh seorang aktifis kampus. Tantangan tersebut bisa berupa cara untuk manajemen diri, manajemen kegiatan, manajemen organisasi, ataupun manajemen opini publik. Hambatan internal atau eksternal bukan merupakan alasan untuk tidak bisa mengatur itu semua.

Dengan memahami hakikat perang, insyaAllah mahasiswa mampu meningkatkan integritas dirinya. Hakikatnya perang adalah sebuah perjuangan, perjuangan melawan kemudharatan, perjuangan untuk suatu kebaikan.

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s