Dilema : Kebanggaan atau Kebermanfaatan

Duhai Sang pembolak-balik hati,
balikkanlah hati makhluk-makhluk-Mu yang lemah ini
pada sisi kebenaran-Mu yang hakiki..
Luruskanlah niat serta usaha kami
guna meraih kebanggaan yang sejati..

Rahadian Dustrial Dewandono, Status FB December 5 at 10:17pm

imageBismillahirohmanirohim,
insyaAllah tulisan ini tidak didasari unsur riya’ atau pamer akan suatu hal.

Tanggal 5 Desember 2011, saya dilanda kegalauan yang luar biasa. Betapa tidak, saat ini saya harus dihadapkan dengan dua hal, yakni kebanggaan atau kebermanfaatan. Di saat keegoisan diri dan impian – impian pribadi ditabrakkan dengan kesempatan untuk bermanfaat kepada sesama, khususnya kepada mahasiswa yang lain.


Kebanggaan

Lulus studi S1 Teknik Informatika dalam jangka waktu 3,5 tahun merupakan impianku sejak semester II. Segala usaha telah saya lakukan guna meraih mimpi itu. Semenjak semester II saya sengaja mengambil jatah SKS yang lebih untuk memperingan beban semester tahun terakhir saya.

Memang terlihat sangat sepele. Di jurusanku, status lulus 3,5 tahun merupakan achievement yang cukup membanggakan. Terlebih lagi bagi teman – teman yang hobinya riset, seorang akademisi, atau yang pingin terjun ke dunia kerja.

Antusias teman – teman 2008 untuk lulus 3,5 tahun cukup tinggi. Bayangkan saja, di semester ke-7 sudah sekitar 80 mahasiswa angkatan 2008 yang mulai mengambil Tugas Akhir. Pastinya, mereka sudah memastikan bisa lulus pada semester itu. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya budaya lulus 3,5 tahun yang ditularkan oleh kakak – kakak kelas.

Begitu juga dengan apa yang saya alami. Sejak lama, saya sudah merencakan  untuk fokus menyelesaikan Tugas Akhir saya di semester akhir. Berorganisasi tetap, akan tetapi frekuensi keterlibatan saya jauh saya rendahkan.

Kebermanfaatan

Gairah untuk mewujudkan impian lulus 3,5 tahun saya serasa berkurang. Hal ini saya rasakan ketika terlibat di dalam perjuangan pemenangan Imron, sebagai calon Presiden BEM ITS 2011 – 2012. Yah,, saya mebantunya sebisa saya lah. Publikasi via web blog, page FB, twitter, ataupun video.

Oleh karena saya orangnya tidak bisa bekerja secara difus (tidak fokus), maka saya harus fokus untuk membantu proses pemenangan Imron. Ternyata, saat saya nyemplung ke dalam, saya tidak hanya merasakan perjuangan mempublikasikan kampanye Imron, tetapi juga merasakan sebuah dinamisasi politik tingkat dewa yang terjadi di kampus saya. Jujur, ini kali pertama saya menghadapi sebuah dinamisasi setinggi ini.

Di benak, saya punya keinginan untuk turut bergabung dan berjuang dalam rangka mewujudkan lingkup kecil Indonesia (baca : KM ITS) yang jauh lebih baik dan bermartabat. Akan tetapi, lagi – lagi hal itu ditabrakkan oleh keinginan egoisku untuk lulus 3,5 tahun. Saat itu, kegalauan mulai melanda, meskipun masih dalam stadium pertama.

Penentuan Sikap

Di tengah kegalauan itu, saya sering diskusi dengan rekan – rekan seperjuangan saya. Saya sampaikan seluruh keluh kesah yang memberatkan saya untuk tidak bergabung di BEM ITS. Tinggi harapan saya, memperoleh jawaban logis yang dapat menundukkan keegoisan saya. Akan tetapi, sama saja. Semua argumen yang saya terima seperti apa yang sudah saya pikirkan sebelumnya. Agak normatif dan kurang memantabkan diri.

Di dalam benak ini bagai Yin dan Yang yang saling berkontradiksi. Yin mendorong agar saya melanjutkan perjuangan lulus 3,5 tahun dengan seluruh fakta yang mendukungnya. Sedangkan Yang, penuh dengan argumen tandingan dari apa yang dipikirkan oleh Yin.

Sampai akhirnya saya mengajak salah seorang teman yang sangat saya percaya untuk diskusi intens. Di sana kami saling berbagi keluh kesah. Saya sadar, bahwasanya masalah saya terlalu sepele jika dibandingkan dengan masalahnya. Dan saat itu pula sisi Yang saya menemukan banyak argumen logis yang mengarahkan agar saya masuk.

Beberapa hal yang mendukung sisi Yang adalah saat ini saya sedang menjalani program Fast Track. Dengan demikian, lulus 3,5 tahun ataupun 4 tahun sama saja saya tetap di kampus. Biaya kuliah? Kalau saya lulus 4tahun malah jatah beasiswa bisa turun 1x lagi. Berarti lebih untung secara finansial Open-mouthed smile

Hal lain adalah terkait beban moral. Akan merasa berdosa ilmu yang saya dapat di Forum Indonesia Muda, LKMM TL, PPSDMS, dan Leader Summit2 yang lain jika itu semua saya telan sendiri. Saya butuh wadah untuk mengimplementasikannya. Nah, BEM ITS lah wadah yang strategis dalam mengkonkretkan ilmu  – ilmu itu.

Satu lagi hal yang menentramkan hati saya adalah mimpi besar saya untuk menyebarkan optimisme Indonesia kepada Dunia. Saya berencana menggagas gerakan Indonesia Bersinar. Gerakan itu berupa update status massal mengenai harapan – harapan positif terhadap Republik Indonesia. Di saat yang sama, insyaAllah menggandeng PLN dan mantan direkturnya (Dahlan Iskan) untuk mengadakan acara seminar nasional tentang optimisme bangsa.

Dan oleh karena dua hal dan sebuah mimpi besar itu, saya memutuskan untuk fokus berkontribusi di BEM ITS. Semoga keputusan saya untuk memilih segi kebermanfaatan memang putusan yang terbaik.

Lulus 3,5 tahun, cepat daftar kerja, cepat kaya, cepat dapat jodoh, nikah, punya anak, dst. Seperti itulah kebanggaan – kebanggan yang saya anut. Saya bisa saja fokus menyelesaikan Tugas Akhir saya, lulus 3,5 tahun, bangga karena bisa mengikuti Syukuran Wisuda terlebih dahulu, bangga karena dapat foto2 wisuda trus diupload ke FB sebelum teman2 yang lain wisuda, n bangga dengan hal – hal yang sifatnya individual lah. Akan tetapi, saya tidak dapat menemukan feel bermanfaat bagi mahasiswa – mahasiswa yang lain. Smile

2 thoughts on “Dilema : Kebanggaan atau Kebermanfaatan

  1. […] It started from my dilemma. I had to choose if I graduate at 7th semester or not. In another side, I was given mandate as Minister of Communication and Information BEM ITS. This mandate pushes me not to graduate earlier. Finally, I decided to choose to accept that mandate. As a consequence, I could not graduate at 7th semester. For detail story visit here.  […]

  2. […] It started from my dilemma. I had to choose if I graduate at 7th semester or not. In another side, I was given mandate as Minister of Communication and Information BEM ITS. This mandate pushes me not to graduate earlier. Finally, I decided to choose to accept that mandate. As a consequence, I could not graduate at 7th semester. For detail story visit here.  […]

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s