Bandung with Inspiration (1) : Bagai Adegan di Sinetron

image“Jam 4 sore ngumpul di depan Masjid Manarul ya.” Itulah jarkom dari Jalil, koordinator beswan SG ITS dan mantan ketua Himatekpal ITS. Aku bergegas dari Asrama ke lokasi untuk siap – siap berangkat. Setiba di depan Manarul, aku tengok sejenak. Kok sepi. Ya udah, aku tunggu di Rumah Transformasi (RT) aja. RT adalah sebutan untuk Sekretariat BEM ITS yang lokasinya tidak jauh dari Masjid Manarul Ilmi ITS.

Mendekati jam setengah 5, saya baru ke Masjid. Itu pun belum semuanya datang. Masih ada 2 orang yang belum tiba. Memang parah budaya Indonesia. Jam karet pasti selalu ada. Padahal tiket kereta api Turangga jam 18.00.

Saat ini, kereta api tidak bisa diremehkan lagi. PT KAI sudah bertransformasi secara kultural korporasi. Mulai dari kedisiplinan, ketertiban, dan kenyamanan Kereta Api, seluruhnya sudah dibenahi. Tidak ada ceritanya kereta api Ekonomi berdesak – desakkan. Apalagi cerita bahwa kereta api mengalami keterlambatan berjam – jam.

Jam menunjukkan pukul 17.15, dan kondisi diperparah dengan belum tibanya taksi yang mengantar. Untung, salah satu dari kami punya CP taksi blue bird. Kami akhirnya pesan hanya 1 taksi. Karena saat itu, jalil pergi ke mulyosari untuk mencari taksi satunya. Kami pergi berdelapan, jadi butuh 2 taksi.

Rombongan pertama sudah berangkat. Rombongan kedua, termasuk saya, masih setia menunggu taksi kedua di depan Manarul Ilmi. Tik tok tik tok, lama kami menunggu jalil dengan taksi yang dipesannya.  Akhirnya dia tiba. Dan ternyata belum mendapat taksi. Jedaarr..

Akhirnya kami memutuskan untuk order-by-phone lagi. Akan tetapi, kali ini terdapat sedikit mis-komunikasi dengan pihak penyedia layanan taksi. Kami sudah telepon sampai 3x, taksinya belum saja datang. Ternyata, taksinya sudah datang, namun tidak tahu di mana kami menunggu. Maklum, definisi di depan masjid Manarul Ilmi masih agak absurd. Masjid itu tidak jelas menghadap ke mana, karena saking besarnya. Hehe Open-mouthed smile

Untunglah, akhirnya taksi tiba. Tapi, waktu yang tersedia sangat terbatas sekali. Kami bergegas mendekati taksi. “Pak, ke Gubeng sebelum jam 18.00. Tiketnya anak – anak seharga 1,3 juta ada di sini. Kalo telat, hangus semua ini.” terang kami.

Mendengar penjelasan dari kami, pak Supir pun agak tegang. “Oke mas, agak goyang – goyang gak masalah ya”, jelas Pak Supir. “Gak masalah Pak. Lewat jalan di depan Galaxy Mall saja Pak. Agar lebih cepat dan tidak terjebak macet.”

Bisa dibayangkan betapa tegangnya situasi pada waktu itu. Ditambah lagi, rombongan pertama berkali – kali menghubungi kami. Menanyakan keberadaan kami. Memberitahu kalo keretanya sudah datang dan siap berangkat.

Belum lagi, jam di taksi yang sudah menunjukkan pukul 17.50. Berarti kurang 10 menit lagi !! “Tenang, jam itu saya majukan 20 menit kok” terang pak Supir. Memang agak aneh perilaku beberapa orang Indonesia. Niatnya agar tidak telat, tapi malah sadar kalo jam-nya dimajukan. Ya, sama saja membohongi diri sendiri. –_-“

Merasa tidak seberapa terlambat, kami lalu membalas SMS dari rekan – rekan kami dengan sedikit bercanda. “Ini sudah mau berangkat. Di mana, Mas??”. Lantas kami balas. “Di hatimu..”  Jawaban yang lumayan bikin orang lebih panik lagi membacanya. Open-mouthed smile

Untunglah, kami sampai 10 menit sebelum jam 18.00. Setelah bayar ongkos, kami bersegera lari menuju stasiun. Rombongan pertama tidak bisa masuk, karena tiket mereka kami bawa. Belum 5 menit kami duduk di dalam kereta api, dan kereta api pun berangkat meninggalkan Surabaya. Untunglah.. Alhamdulllah…

Selama perjalanan, pengalaman ini menjadi kisah yang seru. Ada yang menghubung – hubungkan dengan film India jaman dahulu. Ada yang menghubungkan dengan sinetron Indosi*r. Haha, ada – ada saja. Tapi, memang dramatis juga kalo direnungkan.

Memang pengalaman merupakan guru terampuh. Kalo sudah mengalami seperti ini, baru bisa merasakan bahayanya tergesa – gesa. Mending menunggu agak lama, daripada berangkat akhir seperti ini. Hal ini juga mengajarkan kami akan pentingnya komunikasi dengan jelas. Ya, mungkin saja ini karena pak Supir yang miskom dengan kami. Jadi sedikit agak telat datangnya. Hufftt.. Pembelajaran memang bisa datang dari mana saja Smile

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s