Yuk Definisikan Kondisi SIAP Kita :)

SIAP2013 (2) wallpaper

A : “Wah, mas Toton minggu depan nikah nih. Kamu rencana kapan bro?”
B : “Yaahh, ntar lah kalo sudah siap”
A : “Emangnya siapmu kapan?”
B : “Hmm. Yaa ntar lah kalo sudah kerja kalo sudah mapan.”
A : “Lho, mapan itu tolok ukurnya seperti apa bro?”
B : “(muka suram, tanda berpikir keras”) Wis ta lah, ini kan urusan pribadiku. Kok kamu intrograsi kayak gini..
Jedaarr.. ceritanya ancur Open-mouthed smile

Ya, itulah percakapan yang sering terjadi di kalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa tingkat akhir, yang galau akan 2 TA (TA:Tugas Akhir dan waniTA). Menyempurnakan separuh agama-lah, mencari tulang rusuk yang patah-lah, mencari pendamping hidup-lah, apa sajalah istilahnya, itu menjadi salah satu rencana strategis dalam hidup kita. Kapan itu kita lakukan? Ya, saat kita sudah siap. Akan tetapi, sebagian besar dari kita belum mendefinisikan kata siap itu. Masih nggelambyar Open-mouthed smile

Memang masing – masing individu bisa berbeda dalam mendefinisikan kondisi siap-nya. Bisa jadi, mereka sibuk mengayakan diri dulu, kalo sudah bisa beli rumah, beli mobil, dan penghasilan udah gede, baru percaya diri untuk menikah. Ada juga yang ingin menyegerakan. Kebarokahan Rejeki akan datang lebih cepat jika separuh agama kita telah kita sempurnakan.

Sebelum berbicara untuk berkeluarga, seyogyanya kita membuat definisi kata siap untuk menikah terlebih dahulu. Definisi tersebut berfungsi sebagai tolok ukur sekaligus cambuk bagi kita agar segera menyiapkan diri. Dengan seperti itu, proses perbaikan diri kita selama masa pencarian jauh lebih terarah.

Siap. Siap dalam hal apa? Saya membagi katagori siap dalam 3 hal. Siap secara Spiritual, Siap secara Finansial, dan Siap secara Mental. Siap secara Spiritual adalah kita dalam kondisi keimanan dan ketaqwaan yang layak untuk menjadi imam bagi hamba-hamba-Nya yang shalih/shalihah. Siap secara FInansial adalah kita mampu membiayai kebutuhan sehari – hari keluarga. Siap secara Mental berarti kita sudah merancang detail visi keluarga. Siap secara mental juga bisa diartikan kita sudah siap menerima segala resiko yang mungkin terjadi saat kita mau/telah berkeluarga.

Siap secara Spiritual

Dari ketiga jenis kesiapan, kesiapan spiritual merupakan kesiapan yang paling utama untuk kita siapkan. Sebenarnya kesiapan ini tidak penting sih, bagi kita yang tidak mendambakan calon pendamping hidup yang shalihah/shalih. Tapi insyaAllah kita tidak seperti itu kan Open-mouthed smile

Yaps, sesuai dengan firman-Nya An Nur : 26,

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”

Hii.. Serem lho. Apa kita rela mendapat wanita / pria yang keji. Naudzubillah deh. Oleh karena itu, mari kita terus perbaiki kualitas spiritual kita agar kita nantinya mendapatkan suami / istri yang juga terjaga kualitas spiritualnya.

Bagaimana tolok ukurnya?
Tolok ukur kesiapan Spiritual adalah pada amal yaumi serta seluruh kebaikan – kebaikan yang kita sebarkan. Misalnya, yang sekarang kita jarang – jarang sholat berjamaah, kita bisa tingkatkan sholat berjamaah sehari 6x. Loh kok, iya yang satu sholat tahajud berjamaah. Gak masalah kan Smile. Kualitas dan kuantitas hafalan juga bisa jadi tolok ukur kok. Misal, yang cuma hafal “Qulhuwallahu Ahad”. Sekarang coba menghafal surat dengan bait – bait indah yang berbunyi “Fabi aiyi alaa irobbi kumma tukandziban”. Ilmu juga wajib untuk ditingkatkan. Membaca buku salah satunya. Kita bisa meningkatkan frekuensi kita dalam membaca buku yang bermanfaat.

Siap secara Finansial

Jika sudah berkeluarga, maka segala urusan rumah tangga adalah tanggung jawab kita bersama istri/suami. Apa lagi kalo sudah ada buah hati. Sudah bisa membayangkan, dari mana kita bisa membiayai popok, bubur, susu, dan seluruh keperluan buah hati kita? Kalo sudah mengajak usia TK, darimana kita bisa menyekolahkan mereka?

Galau kan?! Yaps, kita tidak bisa selamanya menggantungkan diri kepada orang tua. Anak milyader Bill Gate sekalipun, harus mampu mencari nafkah untuk keperluan keluarga sehari – hari.

Kesiapan secara Finansial sangat mudah diukur. Karena berhubungan dengan nominal rupiah. Pengukurannya bisa dari nominal rupiah yang dihasilkan dalam 1 bulan. Atau dari harta pribadi yang rencana digunakan untuk modal berkeluarga.

Ingat kawan, untuk melaksanakan kondangan pernikahan (wallimah-an) itu juga tidak murah. Darimana kita bisa membiayainya? Pinjam sana pinjam sini? Ahh.. Kalo gitu mending ke laut aje. Gak punya malu tuh !!

Sebenarnya dengan menetapkan tolok ukur ini, kita lebih termotivasi untuk mencari rejeki halal yang lebih. Agar semakin cepat pula kita untuk menunaikan sunnah rosul ini.

Siap secara Mental

Hmm.. Akan tidak lucu jika kita sudah mau menikah, tapi mental kita belum siap. Kita belum punya gambaran jelas mau di bawa ke mana keluarga kita kelak. Kita belum punya visi yang jelas 5 tahun setelah berkeluarga mau apa, 10 tahun setelahnya mau apa, dst. Apalagi kita cowok. Cowok itu jadi pemimpin bro. Masak pemimpin tidak bisa mengarahkan bahteranya mau di bawa ke mana sih. –_-“ Naudzubillah..

Oleh karena itu, mental kita juga harus kita persiapkan. Kita buat rencana strategis pernikahan barokah kita. Kita siapkan segala alternatif, dari kemungkinan yang paling baik, sampai kemungkinan terbutuk sekalipun. Bahkan, wajib bagi kita untuk mempersiapkan mental kita, semisal pinangan kita ditolak si Doi. Gak lucu kan, habis meminang doi trus masuk Rumah Sakit Jiwa –_-“

Tolok ukurnya memang variatif. Bisa dari kejelasan kita membuat visi pernikahan ke depan. Dan bisa juga dari kemantaban rasa kita untuk siap membina keluarga yang sakinnah, mawaddah, dan rohmah.

So, Tunggu Apa Lagi?

Kalo sudah tahu seperti ini, pasti kita akan bergegas untuk membuat tolok ukur pribadi, kapan kita siap untuk mengambil tulang rusuk kita yang patah itu. Dengan demikian, saat kita ditanya sahabat, kapan nikah bro? Silakan jawab, jika hafalan quran saya sudah sekian surat, jika sholat jamaah saya sehari minimal sekian kali, jika puasa sunnah saya sebulan minimal x kali, jika penghasilan saya perbulan minimal x juta, jika saya sudah membreakdown visi 50 tahunan saya sampai level 3-bulanan. Tapi, agaknya repot juga, pertanyaan ringan jawabannya seberat itu.. Open-mouthed smile

Semoga kita tetap istiqomah dalam usaha menahan diri dan memperbaiki diri ini. InsyaAllah, tulang rusuk kita tidak akan tertukar. Hanya tergantung langkah dan usaha kita untuk mencarinya. Selamat mencari dengan memperbaiki diri. Sekali lagi, tujuan akhir adalah bukan untuk mencari istri / suami, tapi ikhlas hanya untuk illahi robbi. Smile

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s