YLI Mckinsey : UNLEASHING INDONESIA

Alhamdulillah, dapat materi awal dari YLI. Ini merupakan tugas awal dari YLI sebelum forum pertama.

Indonesia muncul kembali di panggung dunia; kini sebagai negara anggota G20 yang dengan cepat berkembang menjadi lembaga penting dalam pemerintahan global. Ketika meluncurkan program yang melibatkan kekuatan ekonomi negaranegara berkembang terpenting, OECD megikutsertakan Brasil, Cina, India, Indonesia, dan Afrika Selatan (disebut sebagai BRIICS). Indonesia semakin dianggap sebagai contoh negara demokrasi dengan sebagian besar berpenduduk muslim dan memiliki letak strategis di Asia Tenggara. Kepentingan dan pengaruh politik Indonesia dirasakan semakin meningkat. Banyak pihak merasa bahwa hal ini baru merupakan permulaan karena Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Dengan kekayaan sumberdayanya, terutama energi dan mineral serta penduduk berusia muda sebanyak 230 juta jiwa, Indonesia dapat mencapai lebih banyak lagi. Dalam kurun-waktu 20 tahun sejak tahun 1977 hingga 1997, GDP Indonesia tumbuh rata-rata 7,1 % per tahun. Pertumbunhan ini merupakan contoh perkembangan ekonomi yang cepat dan berkesinambungan yang jarang tertandingi di seluruh dunia. Banyak ekonom menduga bahwa laju pertumbuhan saat ini, yaitu di bawah 6 % dalam kurun waktu sepuluh tahun sejak tahun 1999, masih berada di bawah potensi Indonesia yang sebenarnya.

 

Apa yang diperlukan untuk menggali potensi Indonesia? Dalam kumpulan artikel ini, kami menawarkan sudut-pandang atas lima tema pokok yang kami anggap penting dalam mengambil tindakan, yakni melakukan transformasi badan usaha milik negara, mengembangkan para pemimpin dan SDM yang berbakat, menjadikan bisnis keluarga profesional, melakukan perubahan ke ekonomi berkarbon rendah, dan meningkatkan kemampuan negara dalam menghadapi tantangan kemasyarakatan.

Untuk tiap tema, kami menampilakan artikel yang diambil dari pengalaman McKinsey & Company dalam melayani organisasi-organisasi penting di seluruh dunia. Tidak setiap artikel membahas secara rinci persoalan yang dihadapi di Indonesia, namun di dalamnya menawarkan sudut-pandang yang berguna. Sebagai pelengkap, kami juga menampilkan artikel tentang “Masa Depan Asia dan Krisis Keuangan” yang mengemukakan bagaimana negara-negara di Asia dapat membantu mendorong pemulihan krisis keuangan dunia. Untuk membantu anda menelusuri kumpulan artikel ini, berikut gagasan penting dari artikel-artikel tersebut.

1. Transformasi Badan Usaha Milik Negara

BUMN mendominasi berbagai sektor ekonomi Indonesia namun memiliki kinerja rata-rata lebih buruk dibandingkan dengan pesaing mereka dari sektor swasta. Banyak sebab mengapa perusahaan swasta cenderung lebih baik dibandingkan dengan badan usaha milik negara, meskipun bukan berarti buruknya kinerja tidak dapat dielakkan.

Dalam artikel “Meningkatkan Kinerja BUMN”, kami melihat sejumlah kasus bahwa ada BUMN memiliki kinerja yang sama atau bahkan lebih baik daripada perusahaan-perusahaan swasta. Artikel ini membahas tiga penggerak utama yang ada pada manajemen BUMN untuk meningkatkan kinerja terlepas dari konteks pemegang saham.

Kami juga menyertakan wawancara dengan Idris Jala, CEO Malaysian Airlines, yang merupakan badan usaha milik negara. Beliau memimpin perubahan dramatis pada perusahaan tersebut dengan fokus mencapai sasaran yang tampaknya tidak mungkin tercapai.

2. Mengembangkan Para Pemimpin dan Talenta yang Berbakat

Rancangan strategi terbaik hanya merupakan suatu impian apabila konsep tidak dapat diwujudkan menjadi kenyataan. Salah satu penghalang terbesar untuk mencapai kesuksesan dalam melaksanakan program perubahan yang ambisius (dalam perusahaan) adalah kurangnya jumlah pemimpin dalam organisasi, yaitu orang-orang yang dapat memimpin tim mereka untuk mencapai terobosan kinerja. Berdasarkan pengalaman dari seluruh dunia, banyak usaha transformasi yang gagal disebabkan kurang adanya pemimpin yang tepat. Dalam artikel ”Kepemimpinan Sebagai Titik Awal Suatu Strategi”, kami menguraikan pendekatan yang menghubungkan perencanaan strategi dengan pengembangan dan pemupukan pemimpin.

Pada tingkat nasional, pengembangan pemimpin dimulai di sekolah. Dengan 62 juta penduduk Indonesia usia sekolah saat ini, sistem pendidikan merupakan sarana pokok yang mutlak bagi pengembangan. Dalam “Reformasi Pendidikan: Kuncinya adalah Memperbaiki Kualitas Pengajaran”, kami mengamati hal-hal yang dapat kita pelajari dari sistem sekolah berkinerja tinggi di seluruh dunia tentang bagaimana meningkatkan kualitas para siswa. Satu pembelajaran yang dapat dipetik dari sistem terbaik adalah bahwa guru yang berkualitas tinggi membawa hasil yang menentukan. Sistem sekolah terbaik merekrut guru mereka dari 30 % lulusan perguruan tinggi terbaik.

Kami juga menyampaikan beberapa berita dan informasi mengenai program yang diluncurkan oleh McKinsey pada tahun 2008. Melalui program “Young Leaders for Indonesia”, McKinsey memilih mahasiswa terbaik dan mengembangkan keahlian kepemimpinan mereka selama jangka waktu enam bulan. Kami bertujuan membawa lebih banyak mitra ke dalam program ini seiring dengan perkembangannya dalam beberapa tahun ke depan.

3. Membuat Bisnis Keluarga Menjadi Profesional

Di samping BUMN, konglomerat atau bisnis keluarga (Family Owned Businesses/FOB) merupakan jenis kelompok usaha paling penting berikutnya di Indonesia. Seiring dengan terus bermunculannya para pengusaha baru, banyak FOB yang sudah mapan menjalani peralihan manajemen ke generasi pemilik kedua atau ketiga.

Pengamatan Tolstoy yang terkenal adalah “Keluarga yang bahagia semuanya sama; setiap keluarga yang tak bahagia adalah tidak bahagia dalam caranya sendiri”. Dalam artikel “Mempertahankan Bisnis Keluarga”, kami menyimak factor keberhasilan kunci FOB di seluruh dunia yang mampu mempertahankan kekayaan mereka melampaui generasi ketiga. Kami mempelajari ciri umum yang mereka miliki, “hal-hal yang membuat mereka bahagia”, demikian istilah Tolstoy. Kami juga mewawancarai Yongmaan Park, pemimpin Doosan Infracore dan anggota generasi ketiga keluarga ini. Beliau menyampaikan bagaimana membenahi bisnis keluarga yang sudah berusia 100 tahun sebelum dan selamamasa krisis tahun 1997, yang kini berada dalam proses untuk menjadi perusahaan dunia.

4. Melakukan Transisi ke Ekonomi Berkarbon Rendah

Sementara krisis keuangan dan ekonomi saat ini menjadi fokus utama, perhatian jangka-panjang untuk menangani masalah perubahan iklim tetap berlanjut. Dunia berharap Indonesia, sebagai negara penghasil emisi terbesar ketiga di dunia, dapat memainkan peran penting dalam mengurangi emisi rumah kaca global. Dalam “Tak Setinggi Langit”, kami menguraikan bagaimana negara dapat mencapai pertumbuhan ekonomi dan secara bersamaan mengurangi emisi karbon. Mereka melakukan hal itu dengan meningkatkan produktivitas karbon, yaitu jumlah emisi karbon per satuan GDP.

Negara memiliki tiga penggerak utama, yaitu efisiensi energi (yang sebenarnya terbayar dengan sendirinya), beralih ke sumber energi berkarbon rendah atau terbarukan, dan menanggulangi penggundulan hutan. Dalam setiap permasalahan ini, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar.

5. Meningkatkan Kemampuan Indonesia dalam Menghadapi Tantangan Sosial

Pada bagian akhir, kami mempertimbangkan bagaimana pemerintah, pelaku bisnis, dan LSM dapat mengatasi tantangan sosial dengan baik, bahwa merancang tanggapan efektif terhadap bencana merupakan hal penting. Peran yang biasanya dipegang oleh pemerintah, karena adanya bencana tsunami 2004 yang mengguncang Aceh, mengharuskan pemerintah meminta bantuan masyarakat LSM dunia, pemerintah asing, swasta baik lokal maupun asing, dan dari lembaga pemberi pinjaman seperti Bank Dunia.

Di sini kami menyampaikan pemikiran Bapak Kuntoro Mangkusubroto, pemimpin Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh dan Nias (BRR), yang tertuang dalam pelajaran yang beliau dapatkan dalam mengelola pemulihan akibat bencana. Dibandingkan dengan upaya lain yang dilakukan di seluruh dunia, sebagian besar pakar dunia memandang rekonstruksi Aceh dan Nias berhasil. Lebih dari 93 % dari dana yang dijanjikan para donatur (termasuk pemerintah Indonesia) disalurkan atau dialokasikan untuk proyek-proyek tertentu. Persentase ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan upaya pemulihan lainnya.

Kami berharap anda dapat menikmati saat membaca gagasan dari McKinsey dan kawan-kawan. Kami akan dengan senang hati menerima sumbangan pikiran atau pandangan anda mengenai topik-topik yang kami sajikan serta mengundang anda menyampaikan gagasan kepada kami.

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s