Rahasia Sukses Pasca Kampus : Sektor Publik

oleh : P. Suyanto, Wakil Ketua DRPD Kota Surabaya

image

Sektor publik merupakan sektor keprofesian di ranah pengambil atau pembuat kebijakan publik. Sektor ini banyak disoroti oleh masyarakat karena menggunakan hal akses dan sumber daya publik. Bekerja secara profesional di dalam sektor ini gampang – gampang – susah. Jika tidak memiliki idealisme yang tinggi, bisa jadi kita terjerumus di lembah keburukan.

Untunglah pertanyaan – pertanyaan yang membuat kami, peserta latihan gabungan PPSDMS wilayah timur, bimbang terjawab sudah. Malah yang menjawab langsung dari praktisi sektor publik yang sudah makan garam cukup lama. Ya, beliau adalah Pak Suyanto, wakil ketua DPRD Kota Surabaya.

Menurut penilaian kami selama 3 jam berdiskusi dengan beliau, Pak Suyanto merupakan sosok yang idealis nan sederhana. Terbukti dari cerita – ceritanya yang masih menghadapi sulitnya hidup di kota Surabaya, sulitnya memperoleh rumah yang mapan, sulitnya membeli mobil pribadi, padahal beliau sudah menduduki jabatan orang kedua di DPRD Kota Surabaya.

Lho, jangan salah. Bukannya beliau pelit, namun sebenarnya gaji pegawai publik memang tidak begitu besar sehingga bisa dibelanjakan untuk mobil mewah, rumah mewah, dan kebutuhan untuk berfoya – foya lainnya. Untuk datang ke asrama pun, beliau diantar dengan mobil dinas. Itu juga sangat terpaksa karena aturan protokoler yang mengikatnya.

Kesuksesan Bangsa ditentukan dari Nilai yang Diyakininya

Mengapa China bisa sukses? Mengapa India bisa sukses? China mampu menularkan nilai – nilai lokal leluhurnya kepada masyarakatnya. Ideologi Konfusianisme mengajarkan agar masyarakat keturunan China ulet dalam bekerja. Nilai itulah yang berhasil dijaga sehingga saat ini mereka menjadi bangsa yang sukses. Begitu juga India. Nilai – nilai yang ditularkan Ghandi dalam perjuangannya masih terinternalisasi dengan baik di benak masyarakat India. Mereka tidak ingin menyia – nyiakan kemerdekaan yang diraihnya susah payah dari Pemerintah Penjajah Inggris pada waktu itu. Mereka bekerja keras demi India mereka

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah nilai – nilai pada masa kejayaan Demak, kejayaan Mojopahit masih tersimpan rapi di sanubari kita? ternyata tidak. Pemerintah Belanda sudah mengkontaminasikan mindset masyarakat kita, mengkerdilkan pemikiran kita, dan membodohkan bangsa kita. Ditambah lagi ulah pejabat publik kita yang tidak memberi contoh nilai – nilai luhur Indonesia. Mereka terlalu lalai dan terlena dengan jabatan dan kekuasaan  yang mereka duduki. Padahal, jikalau tidak ada mata rantai estafet nilai yang terputus, kita bisa menjadi negara yang makmur dan digdaya.

Menularkan Nilai dengan Memberi Tauladan

Saat ini terjadi fenomena split of personality  pada sebagian besar sosok pemimpin negeri ini. Mereka berkoar – koar mengenai kebaikan di depan publik, namun sikap dan kepribadiannya yang mereka miliki tidak seindah yang mereka katakan. Integritas merupakan hal yang sangat langka. Bagi mereka, pencitraan lebih penting daripada pengabdian. Oleh karena itu, sebagian besar dari pemimpin kita fokus untuk mencitrakan sosok dirinya dengan sebaik – baiknya, sampai – sampai lupa kalau hal baik yang dicitrakan itu belum terdapat pada dirinya.

Padahal, tugas pertama pejabat publik adalah memastikan nilai – nilai luhur bangsa dapat tersalurkan ke seluruh lapisan masyarakat. Cara paling sederhana adalah dengan mulai dari diri sendiri. Pejabat publik dapat menyempurnakan internalisasi nilai – nilai luhur bangsa. Pemimpin yang baik seharusnya mampu memberi tauladan penerapan nilai – nilai itu. Dengan demikian masyarakat mampu menjadikannya sebagai figur yang layak untuk dicontoh.

Dengan memberi tauladan, pemimpin juga secara tidak langsung memantaskan dia sebagai pemimpin yang kompeten dan memiliki integritas tinggi, buka sekedar orang – orang yang mendapat keuntungan politik sehingga bisa berkuasa dan membuat kebijakan.

Kebenaran merupakan Hal yang Mutlak

Kebenaran merupakan hal yang mutlak, tidak dapat diubah berdasarkan variabel apapun : tempat, lokasi, waktu, situasi, kondisi, dan variabel ubah lainnya. Begitu juga kebenaran yang harus diambil oleh seorang pemimpin. Pemimpin publik harus benar – benar bersikap idealis dalam mengambil keputusan. Keputusan harus berdasar atas kebenaran dan tidak bisa ditawar – tawar.

Begitu juga saat kita berada di lingkungan yang berbeda. Kita harus mampu menyimpan kebenaran yang kita yakini serusak apapun lingkungan tempat kita berada. Kita mampu menyaring nilai apa saja yang mampu dikompromikan dan nilai apa saja yang merupakan nilai kebatilan. Pemimpin publik harus mampu menyimpan nilai sesuai dengan idealisme ke-Islam-annya.

Semoga dengan kita mulai untuk memantaskan diri sebagai calon pejabat tinggi publik, kita mampu menyimpan nilai – nilai luhur bangsa kita dan menularkannya ke masyarakat sekitar kita. Semoga jabatan – jabatan tinggi publik di negara ini benar – benar dipegang oleh orang – orang yang mampu mempertahankan kebenaran di mana pun dan kapan pun mereka berada.

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s