Terjerumus dalam Jurang Kebaikan

Lebih baik menjadi mantan perampok daripada menjadi mantan kiai. Perubahan besar seperti itulah yang saya rasakan setelah mengikuti pendidikan karakter selama 2 tahun di PPSDMS. Saya, yang sebelumnya merupakan kaum hedonis, pragmatis, dan oportunis, telah digembleng sesuai 4 jati diri PPSDMS : Aktivis Pergerakan, Aktivis Islam, Mahasiswa Berprestasi, dan Menjunjung tinggi nilai kekeluargaan. Awalnya sakit dan membosankan memang, namun di akhir masa pembinaan ini, saya justru merindukan suasana tersebut.

 

Masa Sebelum Pencerahan

Sebelum masuk asrama, saya merupakan mahasiswa yang hedon. Keseharian saya diisi dengan aktivitas : Kuliah, Berogranisasi, Hang-Out ke Mall. Sungguh aktivitas yang menjemukan. Namun, saya juga heran kok bisa saya sangat nyaman saat itu.

Saya saat itu juga sangat jauh dari kegiatan kerohanian yang diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Jangankan hafidz berjus-jus, ikut kajian kerohanian yang diwajibkan bagi mahasiswa baru saja saya sangat jarang. Lebih parahnya lagi, saya sempat terpengaruh stigma bahwa Aktivis Dakwah Kampus (ADK) cenderung menutup diri dan tidak pro terhadap himpunan. Saya sempat menjaga jarak dengan mereka. Astagfirullah.

Berawal dari Sebuah Poster di Mading Himpunan

Transformasi diri dimulai saat saya membaca poster publikasi open recruitment PPSDMS angkatan V yang tertempel di mading himpunan. Wah, apa ini. Ada Pembinaan kepemimpinan yang lengkap dengan training jurnalistik, training pengembangan diri, dan training bahasa inggris. Dapat uang saku lagi. Sepintas saya pun tertarik dengan program tersebut.

Saat itu saya tidak tahu secara mendalam apa itu PPSDMS. Oleh karena pengemasan visual branding poster PPSDMS tidak terlalu kelihatan program pembinaan keagamaan, bayangan saya PPSDMS merupakan program pengembangan diri yang bersifat umum. Ya seperi pelatihan yang telah saya ikuti : Latihan keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM) pra TD, LKMM TD, dsb. Berbekal ingin mengembangkan diri, saya pun ikut pendaftarannya.

Curriculum Vitae, Transkrip IPK,  Fotocopy Sertifikat, dan berkas – berkas lainnya sudah siap. Tidak begitu dengan Surat Rekomendasi. Saya sempat bingung akan meminta rekomendasi ke mana, karena relasi yang saya miliki terbatas lingkup jurusan saja. Saya baru ingat jika senior saya ada yang ikut PPSDMS. Akan tetapi, saya ragu kalau beliau kenal dekat dengan saya. Ya wis, Coba dulu saja deh.

“Oh, Kamu ikut PPSDMS?!” dengan nada agak sedikit terkejut. Itulah kalimat yang saya ingat ketika saya menyerahkan berkas Surat Rekomendasi PPSDMS ke senior saya. Mungkin nampak begitu aneh bagi orang lain jika saya mendaftar PPSDMS. Ya, saya sih cuek saja dengan stigma negatif orang lain terhadap saya saat itu. Hehe

Saya Beruntung

Tahap demi tahap tes saya terus lalui. Sampai pada tahap terakhir, yakni tes presentasi dan wawancara. Ya Allah, saya masih ingat, saya sungguh beruntung pada saat itu. Seakan – akan ada kekuatan ghoib yang dengan sengaja menjadikan jalan saya pada tahapan tes tersebut dapat saya lalui dengan sangat mudah.

Saat itu kali pertama saya bertemu dengan peserta yang lolos sampai tahap terakhir. Beberapa dari mereka saya kenal, beberapa ada Ketua Himpunan, Presiden BEM Fakultas, Ketua LDK, dan beberapa orang hebat lainnya. Secara manusiawi, hati ini semakin bergetar. Semakin ciut juga nadi optimisme dalam benar saya. Belum lagi saya mendapat kabar bahwa topik presentasi mengenai isu politik, ekonomi, hankam, dan teknologi dibagikan secara acak. Wah, saya saat itu merupakan mahasiswa yang close-minded, cuma ngerti di bidang saya. Kalau mendapat topik mengenai politik, apa yang harus saya sampaikan.

Dan ternyata, Maha Besar Allah, saya mendapatkan topik yang paling saya kuasi, yakni tentang Teknologi Informasi dan Komunikasi. Saya langsung dengan sigap mem-break-down topik dan menyiapkan materi presentasi secara komprehensif. Ya Allah, saat itu saya benar – benar merasa bahwa ada sesuatu di luar akal yang memudahkan proses penjerumusanku.

Saya sangat optimis dengan hasil tes tahap akhir. Dan ternyata keoptimisan saya terbukti benar, saya termasuk dalam 20 mahasiswa ITS yang tergabung dalam angkatan V PPSDMS.

Baru Menyadari, Ternyata Saya Terjerumus …

Sampai menjelang forum pertama penandatanganan kontrak pun, saya masih mengira bahwasanya PPSDMS merupakan forum pengembangan diri yang bersifat umum seperti Himpunan, BEM, dsb. Ternyata saya salah. PPSDMS ternyata jauh lebih dari apa yang saya bayangkan. Ternyata PPSDMS merupakan pesantren modern mahasiswa. Di sana tempat berkumpul orang – orang sholeh yang berjuang untuk memperbaiki diri dan memperbaiki masyarakat.

“Ahlan wa sahlan yaa ikhwah fillah rachimatumullah.. Bla Bla Bla.. Tafadhol Akh, .. Jazakumullah Khair”. Apa nih, sungguh asing di telinga saya pada saat itu kata – kata yang sering digunakan di lingkungan ADK. Saya mengangguk – anggukkan kepala pura – pura mengerti. Hehe.

Ya, saya merasa asing. Saya merasa menjadi orang paling tidak suci di antara teman – teman saya. Pengetahuan agama saya paling rendah, paling hina, dan sebagainya. Ya Allah, ternyata Engkau menjerumuskanku ke jurang komunitas hamba – hamba-Mu yang sholeh. Perasaan itulah yang saya rasakan pascaforum pertama.

Saya merenung sebentar, sedikit menertawakan diri saya yang tidak tahu menahu PPSDMS seperti apa. Saat itu saya benar – benar meniatkan ingin menggembleng diri. Saya berkomitmen untuk meningkatkan pemahaman agama saya di sini, di pesantren mahasiswa PPSDMS.

Digembleng itu Sakit, Ternyata..

Untuk memproduksi sebuah mutiara, kerang harus menahan sakit akibat materi yang disisipkan ke dalam tubuhnya. Itulah yang saya alami pada masa pembinaan awal di asrama PPSDMS. Kuliah keteteran, beberapa agenda organisasi kurang optimal, badan letoykarena kurang tidur, dsb. Memang bagi sebagian peserta binaan yang sudah berkebiasaan seperti apa yang diwajibkan oleh PPSMDS merasa tidak terlalu berat. Akan tetapi, saya yang notabene merupakan kaum hedonis, bangun dini hari untuk sholat tahajud tiap hari rasanya sangat berat pada saat itu. Ah, rasanya pingin keluar saja dari kawah candradimuka ini.

Saat itu, amanah di Laboratorium yang saya jadikan kambing hitam. Memang benar, saya merupakan administrator salah satu laboratorium yang ada tanggung jawab untuk menjaga laboratorium di malam hari. Namun, hal itu saya lebaylebay­-kan di hadapan supervisor asrama. Dengan harapan saya bisa izin untuk tidak ikut agenda pagi asrama. Sungguh nakal, bukan?!

Tidak jarang saya dipanggil dalam forum terbatas khusus untuk peserta bina yang bermasalah. Ya sama, alasan yang saya gunakan adalah ada amanah untuk menjaga laboratorium. Sampai – sampai pada saat evaluasi semester pertama, saya mendapat Surat Peringatan Pertama dari PPSDMS Pusat. Oleh karena kebandelan saya yang teramat sangat, saya berubah hanya beberapa minggu setelah memperoleh surat itu. Hadeh,,

Tidak Ada Kata Terlambat untuk Sadar

Kenakalan saya berlanjut, seakan – akan seluruh cara supervisor dalam mengingatkan tidak berpengaruh bagi saya. Sesuatu yang membuat saya mengambil langkah untuk berubah adalah saat pengumuman dikeluarkannya beberapa teman asrama saya. Di asrama, total ada 9 peserta bina yang keluar, dan 2 di antaranya dikeluarkan dengan alasan sangat jarang berada di asrama. Mereka padahal sangat ingin untuk mendapat pembinaan asrama. Namun terlambat, PPSDMS pusat tidak memberikan kesempatan.

Ya Allah,.. jika saya analisis, saya lebih parah daripada teman – teman saya yang dikeluarkan karena sangat jarang di asrama. Namun Engkau masih memberiku kesempatan berkali – kali untuk memperbaiki diri. Sungguh, saat itu saya merasa sangat bersalah.

Saya masih percaya bahwa untuk menjadi pribadi yang lebih baik memang dibutuhkan kemampuan untuk menahan sakit akibat gemblengan agenda padat di asrama. Sedikit demi sedikit ilmu manajemen waktu dan prioritas yang saya dapat dari berbagai pelatihan mulai saya terapkan. Sedikit demi sedikit saya mendisiplinkan kegiatan harian saya. Sedikit demi sedikit saya mulai menambah frekuensi keberadaan dan keikutsertaan saya dalam program asrama. Dan alhamdulillah, belum genap satu semester saya sudah bisa menyesuaikan dengan agenda asrama yang cukup padat.

Saya mulai menikmati materi pembinaan asrama. Agenda – agenda asrama yang dulunya saya anggap sebagai formalitas, lambat laun saya malah tertarik untuk belajar lebih dalam. Kajian Islam Pekanan yang dulunya merupakan forum yang menjemukan, akhir – akhir ini saya tidak pernah absen untuk bertanya dalam forum. Begitupun hubungan interpersonal saya dengan teman – teman seasrama. Yang dulunya cuma sebatas teman dalam forum, sekarang saya mulai menyelami pribadinya secara mendalam.

Ya Allah, begitu tidak bersyukurnya saya. Saya diberi kesempatan langka yang diinginkan oleh ratusan orang namun saya menyia – nyiakannya di awal. Saya dijerumuskan ke dalam komunitas orang – orang sholeh, malah saya menganggapnya sebatas teman satu forum. Saya dikenalkan dengan tokoh – tokoh inspiratif, namun tetap saja saya tidak bisa memanfaatkannya dengan optimal.

Balas Dendam Positif

Terbesit di benak saya, saya harus balas dendam atas ketidakmaksimalan saya dalam memanfaatkan pembinaan di asrama. Saat itu saya menarget 3 buah pencapaian : tiga besar juara lomba nasional, terpilih dalam forum kepemudaan nasional, dan terbang ke luar negeri gratis. Dan segala puji bagi Allah, saya mendapatkan lebih dari apa yang saya inginkan.

Saya berhasil memperoleh juara 1 di National Software Design Competition Arkavidia 2.0 ITB dan juara 2 di LKTIN GEMPA ITS. Saya juga lolos dalam beberapa forum kepemudaan nasional seperti Forum Indonesia Muda 11, Young Leader Summit, dan puncaknya pada Young Leader for Indonesia wave4. Ke luar negeri sebatas mimpi? ternyata tidak. Dengan memanfaatkan jejaring di Forum Indonesia Muda, saya terpilih sebagai delegasi Indonesia dalam konferensi muslim internasional di Teheran Iran. Puncak dari balas dendam positif saya adalah pada pencapaian saya sebagai Mahasiswa Berprestasi II ITS 2012.

Minggu – minggu terakhir mendekati proses pelepasan wisuda asrama, saya merasa sedih dan khawatir. Saya sedih karena harus berpisah dengan lingkungan yang benar – benar mengkondisikan saya. Saya khawatir tidak mendapat lingkungan yang kondusif dan mampu mendukung perjuangan saya kelak. Memang benar, penyesalan datang di akhir. Penyesalan karena tidak mulai dari awal saya memanfaatkan pembinaan PPSDMS dengan maksimal.

Bagi saya PPSDMS merupakan institusi yang menjadi milestone terbesar dalam hidup saya sampai saat ini. Saya yang dulunya merupakan kaum hedonis dan apatis, setelah penggembelengan dua tahun, saya menyadari betapa luasnya lahan untuk berkontribusi bagi bangsa, betapa terbukanya kesempatan untuk memperbaiki masyarakat. Seakan – akan tidak ada waktu dan kesempatan lagi untuk bersikap hedon dan apatis seperti dulu. Semoga saya dapat konsisten dalam perjuangan pasca terjerumusnya saya dalam jurang kebaikan PPSDMS. Amin.

3 thoughts on “Terjerumus dalam Jurang Kebaikan

  1. Luar biasa mas Dewa,
    Beruntung aku bisa kenal dengan sampean mas, pada awalnya ngrasa kaku dengan sambutan mas ke aku, inget pertama kali bareng suwe pas di FIM 11, ga terasa mas emang waktu berlalu dengan tidak disadari,,
    suwun mas bimbingan e, semoga tulisan ini memicu diriku untuk bisa seperti sampean bahkan melebihi,, Amin..

    • luar biasa juga bisa ketemu dengan rekan FIM, rekan main warewolf-an, yang ternyata bisa berkontribusi sebagai HMTI 1.. Kaku gimana? -_-“

  2. Hal yang membuat saya sampai sekarang terheran-heran adalah banyaknya alumni pondok pesantren yang malah enggak nyantri…

    Memang sih ini enggak bisa digeneralisasikan. Karena ini sekedar observasi sederhana saja.

    Ada komen mas Dewa?

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s