Belajar dari Negeri Persia (1)

1979 Iranian Revolution.jpgIran, negara bersistem Republik Islam, terkenal dengan kegigihan revolusinya. Imam Khomeini, tokoh revolusioner Iran, telah mengubah Iran dari negara kerajaan menjadi negara Islam yang menerapkan syariat Islam. Negeri Persia ini berkembang menjadi negara yang tegas dalam memusuhi zionisme dan para negara bonekanya. Banyak hal yang dapat dipelajari dari Iran, terlepas dari polemik kesesatan Shia yang ada. Akan tetapi, sebagus apapun negeri ini, Indonesia merupakan sebaik-baiknya kampung halaman kita.

 

Revolusi Iran

Revolusi Iran terjadi pada tahun 1979. Revolusi Iran merupakan gerakan masif untuk menjatuhkan rezim Shah Reza Pahlevi. Dia adalah Raja Iran yang kerap kali mendzolimi rakyatnya. Istana yang dimilikinya sangat megah dan kontras dengan kondisi rakyat Iran pada masa itu.

Revolusi Iran juga terkenal dengan revolusi Xerox. Pada saat itu para pengikut Imam Khomeini menyebarkan propagandanya Imam dengan menggunakan mesin fotocopy Xerox. Propaganda itu disebarkan ke seluruh lapisan masyarakat, terutama ke kalangan mahasiswa.

Propaganda demi propaganda digecarkan. Rakyat pun terbakar semangatnya dan berani untuk bersuara. Mereka melakukan aksi penolakan terhadap pemerintahan secara besar-besaran. Alhasil istana-istana Shah Reza dapat diduduki dan Shah Reza diusir ke luar negeri.

Fenomena ini hampir sama dengan reformasi di Indonesia pada tahun 1998. Saat itu kekuatan mahasiswa bersatu padu melawan rezim Soeharto. Perbedaannya adalah pada komandan revolusi sebagai poros pergerakan. Jika pada revolusi Iran terdapat satu poros, yakni Imam Khomeini, jika pada reformasi di Indonesia cenderung tidak terpusat pada satu poros saja.

Hal ini secara tidak langsung berdampak kepada mindset masyarakat terhadap siapa yang berkuasa. Masyarakat Iran sampai saat ini sangat patuh dan menghormati pemimpin tertingginya. Hampir tidak ada kritik yang dilayangkan kepada pemerintah. Indonesia berbeda. Wajah Imam pun dipajang di hampir setiap rumah. Saat ini kebebasan pers telah lahir. Sampai-sampai kebebasan itu disalahgunakan. Pemerintah selalu tidak luput dari kritik pedas masyarakatnya.

Keduanya sama-sama bukan kondisi ideal. Iran memang masyarakatnya sangat patuh, namun kebebasan masyarakat seakan ternodai jika pemerintahannya imam-sentris seperti itu. Begitu pun Indonesia. Hampir semua presiden pasti tidak luput dari hujatan publik. Idealnya adalah kepatuhan penuh kepada pemerintah dijalankan tanpa mengurangi aspek kebebasan pada masyarakatnya.

Jiwa Nasionalisme Tinggi

Nasionalisme Iran pernah dibuktikan saat perang Irak-Iran 8 tahun. Menurut sejarah versi Iran, saat itu Irak melakukan ekspansi yang merebut wilayah Iran. Masyarakat Iran yang termasuk dalam katagori wajib militer turun untuk ikut berperang. Tidak sedikit dari mereka yang gugur di medan perang.

Ya, Iran menerapkan wajib militer bagi warganya selama 2 tahun. Hal ini berguna untuk memupuk semangat nasionalisme masyarakat. Saat pendidikan militer, peserta didik tidak hanya diajari tangkas dan militan, tetapi juga diberi wawasan kebangsaan secara komprehensif.

Bendera merupakan simbol kecinta-tanah-air-an suatu bangsa. Jika di Indonesia bendera merah putih hanya ditemui pada bulan Agustus, hal itu agaknya sedikit beda dengan di Iran. Di hampir setiap titik keramaian di Teheran, bendera besar Iran dikibarkan. Meskipun hal ini sepele, namun rasa nasionalisme dapat diukur dari sini.

Selain bendera, simbol nasionalisme bangsa Iran adalah figuritas pemimpinnya. Di Indonesia tembok-tembok rumah penduduk dihiasi dengan iklan komersial atau seni grafiti. Di Iran, tembok-tembok itu dihiasi dengan lukisan wajah Imam Khomeini. Begitu cintanya mereka dengan sosok pemimpin revolusioner itu.

Militansi Masyarakat Iran

Yang bisa dicontoh selanjutnya dari Iran adalah militansi masyarakatnya dalam membela Islam dan memusuhi para pembenci-pembenci Islam. Setelah beberapa kali berinteraksi dengan aktifis Islam (ADK) di sana, kesimpulan sementara mereka lebih militan daripada kita. Dalam aspek kebencian terhadap zionis misalnya, masyarakat dan pemerintah Iran benar-benar memboikot produk-produk yang mendukung kepentingan zionis. Jangankan membeli K*C atau Mc *, memakai FB pun mereka sangat mebatasi.

Hal yang paling utama adalah perusahaan Internasional tidak menguasai sumber daya alam yang ada di Iran. Dengan tegas pemerintah Iran mengusir perusahaan multinasional yang mengeksplorasi minyak mentah Iran. Jika pemerintah Indonesia seberani Iran, maka niscaya SDA bangsa ini tidak akan dinikmati oleh perut orang asing.

Ekonomi yang Mandiri

Setelah pemboikotan produk luar negeri yang dilakukan oleh Amerika, Iran dipaksa untuk lebih kreatif dalam membuat produk dalam negeri. Meski agak terbata-bata, sedikit-demi sedikit Iran dapat membuat produk dalam negerinya sendiri.

Iran telah memiliki dua merk mobil produksi dalam negeri. Bahkan mobil itu sudah menjadi komoditas ekspor. Pada produk makanan, Iran juga memproduksi sendiri. Produk minuman bermerek RINA sudah diekspor sampai ke Malaysia. Saking dipaksanya untuk mandiri, Iran akhirnya menduplikasi beberapa produk Amerika. Pepsi Cola diganti Zam-Zam Cola. KFC diganti CFC. Dupilkasi itu dilakukan dengan pengemasan yang hampir sama, berbeda pada pemberian nama produknya saja.

. . . bersambung . . .

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s