Belajar dari Negeri Persia (2)

Iran mereferensikan hukum Islam sebagai dasar hukum negaranya. Suasana islami sangat terasa dalam lingkungan bermasyarakat di Iran. Meskipun tidak serapi negara barat, sistem tata kotanya cukup baik. Tingkat premanisme juga rendah. Secara akhlaq, mayoritas penduduk Iran cukup baik. Mereka ramah, suka menolong, dan rela berkorban. Hanya mengenal beberapa hari saja, mereka menganggap warga negara asing seperti saudara mereka.

 

Ditegakkannya Hukum Islam

Suasana Islam di Iran lebih terasa jika dibandingkan dengan Indonesia. Hal-hal seperti wajib menggunakan jilbab, wajib terpisah antara laki-laki dan perempuan, tidak boleh minum miras, dll lebih terlihat. Memang di sana hukum yang berlaku adalah hukum syariat Islam. Aturan tersebut mebentuk budaya mereka yang merasa sangat malu jika bercampur-baur antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrim.

Meski telah ditegakkan syariat, tidak semua warga Iran siap dengan hal itu. Wajib menggunakan kerudung misalnya, para wanita Iran saat di Malaysia mereka melepas kerudungnya. Saat sampai di Iran, mereka lekas memakai kembali kerudungnya. Begitu juga mayoritas muslimah Teheran. Mereka menggunakan kerudung asal-asalan. Terkesan memakai kerudung merupakan kewajiban bernegara saja. Memang jika negara Islam yang sedikit dipaksakan akan menghasilkan fenomena ini.

Indonesia saat ini sedikit demi sedikit mengadaptasi hukum Islam. Contoh nyatanya adalah mulai dipisahkannya antara laki-laki dan perempuan pada transportasi umum di Jakarta. Meskipun sepele, esensi dari peraturan ini diambil dari hukum Islam. Yang selanjutnya kita bentuk adalah budaya. Jika di Iran, budaya timbul karena peraturan pemerintah, di Indonesia diharapkan budaya malu itu timbul karena kesadaran. Berdasarkan kesadaran dibutuhkan karena sangat mempengaruhi nilai integritas kita sebagai bangsa.

Tata Kota Rapi

Di Jakarta, satuan jarak yang dulunya menggunakan Kilometer, saat ini sudah menggunakan menit. Hal ini disebabkan karena parahnya kemacetan yang ada. Jalan yang hanya berjarak 10 KM saja bisa ditempuh lebih dari satu jam jika berada di pusat kemacetan. Belum lagi ulah kreatif para pengguna sepeda motor yang turut mewarnai kemacetan.

Kemacetan memang pasti ada. Apa lagi di kota besar seperti Teheran. Yang berbeda adalah jumlah sepeda motornya. Jumlah kendaraan bermotor di Iran sangatlah sedikit. Jalan raya terkesan lebih rapi.

Selain itu, transportasi umum Iran juga cukup mumpuni. Di Teheran misalnya, terdapat beberapa jenis transportasi umum anti-macet. Ada bus way seperti trans-Jakarta. Ada juga metro subway, stasiun bawah tanah untuk kereta api yang super cepat. Meskipun di Jakarta sudah ada KRL, sistem jalurnya berbeda dengan subway. Jika pada KRL hanya dapat dibangun satu jalur, di subway dapat dibangun sampai 3 lapis jalur. Dengan demikian, jumlah kereta yang beroperasi lebih banyak dan interval waktu kedatangannya lebih singkat.

Tingkat Premanisme Rendah

Seminggu di Iran rasanya saya sangat sulit untuk mencari pengemis dan pengamen. Memang secara ekonomi Iran lebih maju daripada Indonesia. Hal itu berimplikasi terhadap jumlahnya pengemis, pemulung, pengamen, dan premanisme. Semakin tinggi tingkat ekonomi suatu negara, semakin sejahtera lah masyarakatnya, semakin rendah pula tingkat premanisme dan pengangguran yang ada.

Tingkat premanisme yang rendah itu juga mewujudkan suasana aman saat berada di Iran. Jambret, rampok, maling, dsb sangat sulit kita temui di Iran. Jangankan ATM, kotak baitul maal yang ditaruh di pinggir jalan pun tidak pernah kemalingan.

Di Indonesia premanisme merupakan salah satu masalah yang kompleks. Tidak hanya faktor finansial saja yang mempengaruhi, faktor pendidikan juga. Jika negara tidak siap dalam memenuhi aspek finansial rakyatnya, diharapkan aspek pendidikan rakyat tidak dinomorkesekiankan. Karena dengan terdidiklah, masyarakat dapat kreatif dalam mencari sumber penghasilan.

Sikap Ramah Tamah

Terlepas dari taqqiyah atau tidak, mayoritas masyarakat Iran memiliki akhlak yang baik. Kehangatan dan keramah-tamahan terpancar dari wajah mereka. Terlebih lagi dalam menghormati tamu dari luar Iran. Mereka benar-benar melayani tamu seperti Raja.

Saya pribadi sangat tersanjung dengan keramah-tamahan orang Iran. Saat rombongan Indonesia, Malaysia, India, dan Pakistan numpang menginap di asrama IUST (Iranian University of Science and Technology, para petinggi kampus pun dengan hangat memberi jamuan makan siang bersama. Padahal acara yang kami ikuti tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan IUST.

Begitupun sahabat saya, si Vahid. Ya Allah, dia benar-benar orang yang penuh belas kasih. Dia melayani kami sebagai tamu dengan penuh totalitas dan keikhlasan. Tidak capek-capeknya dia menemani kami jalan-jalan di Iran. Sampai-sampai dia rela menunda pulang kampung hanya karena menemani kami sampai hari kepulangan kami. Semoga Allah memberi balasan kebaikan kepadanya.

Memang jika dibandingkan dengan orang Indonesia, tipikal ramah-tamah orang Iran berbeda. Ramah-tamah di masyarakat kita sangat identik dengan sopan-santun, tindak-tanduk, adab, dsb. Ramah-tamah orang Iran lebih ke ramah-tamah dari segi kedekatan hubungan interpersonal.

Percaya Diri

Hal lain yang dapat dipelajari dari Iran adalah tingkat percaya diri yang tinggi. Baik pemerintah ataupun masyarakatnya merasa bahwa Iran akan menjadi negara yang makmur. Aura optimisme selalu terpancar di wajah mereka, terlebih saat mereka bertutur mengenai sejarah revolusinya dan kegigihan mereka melawan Amerika.

Bangsa Indonesia mulai minder dengan identitasnya. Contoh simpel adalah cara kita memandang orang turunan luar negeri. Sudah berapa orang luar negeri / turunan luar negeri yang gampang ngetop di dunia hiburan kita. Semakin kita memandang (terlalu) tinggi bangsa lain, semakin kita memandang rendah bangsa kita sendiri.

Indonesia Tetap yang Terbaik

Kita sebagai bangsa Indonesia harus bangga dengan identitas kebangsaan kita. Itu merupakan kunci utama kita dalam membangun bangsa. Ya, nilai optimisme lah yang menjadikan semangat membangun bangsa kita kian menyala.

Sekalipun Iran merupakan negara yang memiliki kegigihan yang luar biasa, warga Indonesia harus bangga dengan kegigihan perebutan kekuasaan dari pemerintahan Belanda tahun 1945. Meskipun Iran sudah menerapkan hukum Islam, Indonesia harus bangga dengan hukumnya yang sedikit-demi-sedikit mengadopsi hukum Islam. Banyak hal yang harus kita syukuri karena itu merupakan anugerah terindah Allah untuk bangsa kita. Itu merupakan modal kita dalam membangun bangsa ini. :)

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s