Karena Islam bukan Sekedar Simbol

ImageIslam merupakan agama yang dapat diterima oleh semua suku bangsa. Lintas negara, lintas ras, lintas bahasa, ataupun lintas warna kulit dan pupil mata tidak menjadi penghalang bagi penetrasi cahaya dakwah Islam. Kemajumukan adalah sebuah keniscayaan. Sebagai jalan hidup, Islam dapat mengakomodasi itu semua. Karena hakikatnya, nilai-nilai Islam lah yang harus kita implementasikan.

Sekitar satu setengah milenium yang lalu, Islam diturunkan kepada Rosul Muhammad SAW di Jazirah Arabia. Al Quran pun diwahyukan dengan menggunakan bahasa Arab agar kita dapat mempelajari isinya secara utuh (Yusuf:3). Dari dulu sampai sekarang, isi Al Quran dan Al Hadist tetap orisinil karena tidak mengalami distorsi dalam pengubahan bahasa.

Nampaknya, beberapa masyarakat kita salah kaprah. Mereka salah tafsir dalam memahami Arab dan Islam. Seakan-akan seluruh perangkat budaya Arab, mulai dari bahasa, lambang, cara berpakaian, cara bersalaman, sampai dengan wangi parfum khas Arabia sekalipun mereka anggap sebagai penerapan nilai keislaman. Bahayanya, mereka belum mengetahui dasar Quran atau Hadist yang menyerukan untuk melakukan hal-hal tersebut. Islam diterima bukan karena simbolnya, namun karena esensi kemaslahatannya.

Memakai kerudung, jilbab, hijab, atau cadar untuk menutup aurat adalah penerapan syariat Islam. Menutup kepala bagi laki-laki agar saat sujud rambut tidak menutupi dahi juga dianjurkan di Islam. Mempelihara jenggot bagi laki-laki, sebagai pembeda Muslim dengan Yahudi, adalah penerapan sunnah. Belajar bahasa Arab pada Al Quran juga salah satu cara untuk memahami isi Al Quran. Itu semua bukan budaya arab, namun merupakan penerapan nilai Islam yang memiliki esensi.

Namun, warna hijau, bulan sabit dan padi #eh, nge-mix kosa kata Arab dan Indonesia seperti Cinta Laura yang nge-mix kosa kata Inggris dan Indonesia, romanisasi bahasa arab (misal : Assalamu’alaykum), penyempitan makna ikhwan-akhwat sebagai pembeda dalam aspek ketaqwaan, wajib memakai surban sebagai penutup kepala dan gamis laki-laki khas Arabia, hakikatnya merupakan perangkat budaya Arab. Sebagian masyarakat meyakininya sebagai suatu komponen peribadatan. Bahayanya lagi, bagi kalangan tertentu fenomena ini menjadi pembatas antara pendakwah dan objek dakwah.

. . .

Oia sebelum kita diskusi lebih dalam, perkenalkan nama saya Rahadian Dustrial Dewandono. Panggil saja Dewa. Tenang, meskipun nama saya nama Jawa, saya bukan pengikut aliran Kejawen. Ada do’a orang tua juga di nama saya. Meskipun saya dipanggil Dewa, saya asli Jawa dan alhamdulillah sejak lahir beragama Islam. Saya pernah merasakan menjadi kalangan hedonis. Dan saat ini, insyaAllah, saya sedang berusaha mencari cahaya Islam. Sebagai seorang Daris (pembelajar), ijinkan saya sedikit berbagi beberapa pengalaman, cerita, serta hasil diskusi saya. Tidak ada maksud untuk menyinggung, apalagi mengolok-olok. Saya juga tidak ingin memisahkan antara Islam dan Arab. Saya ingin berdiskusi, benarkah kita sedang salah kaprah dalam memaknai Islam.

Cerita #1: Jajan Tafadhol

Cecep adalah mantan anak hedon Ibu Kota yang telah tersadarkan. Di awal kuliah dia ikut program mentoring keislaman. Suatu saat, dia bersama temannya silaturahmi ke rumah kakak mentornya. Nah, di sana tersedia berbagai aneka jajanan. Beberapa memang tidak asing di matanya. Tetapi, ada satu jenis jajan yang membuat dia penasaran. Dia melihat jajan itu dengan rasa keingintahuan yang tinggi. Melihat gestur seperti itu, kakak mentornya mempersilakannya untuk menikmati sembari mengarahkan tangan ke jajan yang dilihat Cecep. “Tafadhol (silakan), Akhi (saudara), Tafadhol..”. Cecep pun memakan jajan yang ia belum paham namanya tersebut. Setelah makan, Cecep berkata, “Bang, Tafadhol-nya enak Bang”. Kakak mentor berekspresi dengan penuh kebingungan, “Hah?!”.

Cerita #2: Asalamualaikum, #eh Assalamu’alaykum.

Suatu ketika di sekretariat Senat Mahasiswa ada segerombolan ibu-ibu sekretaris.
Painem: “Sedang ngapain, Ukh (Saudari) ?! Kok sibuk gitu.”
Sumirah: “Sedang membuat surat undangan nih, Ukh.”
Painem: “Hoo… Semangat, Semangat!!”

15 menit kemudian..
Painem: “Ukh, kenapa kok nampaknya Anti (Anda) berpikir keras??”.
Sumirah: “Ini nih ukh, Ana (saya) bingung. Yang benar itu penulisannya, Asalamualaikum atau Assalamu’alaykum, ya? S-nya dobel trus pake aprostof gitu ya? ”
Painem: “-_____-“. “Coba search di Google aja deh, Ukh”.

Cerita #3: SMS dari Sang MR (Kakak Mentor)

Ndono adalah mahasiswa tahun pertama yang mengikuti program pembinaan mentoring keislaman. Dia dulunya adalah anak band aliran Rock Progresif di SMA-nya, pernah mendapat penghargaan gitaris terbaik lagi. Dia ingin belajar Islam. Yaps, mentoring adalah program yang efektif untuk itu. Suatu ketika, ia mendapat SMS Jarkom dari kakak mentornya.

“Assalamu’alaykum Ikhwah Fillah Rachimatumullah. Afwan akhi, ana baru bisa SMS antum hari ini. Ana bertanya, apa nanti bakda tarwih antum bisa meluangkan waktu untuk Liqo pertama kita? Jika bisa, bawa mushaf ya. Jika antum ada acara, hubungi mas’ul kelompok antum. Jazk Akhi. “

Sebagai orang yang awam, Ndono bingung sendiri membaca SMS kakak mentornya itu. Dengan lugunya dia tanya ke teman satu kelompok mentoringnya.

A: “Eh. Aku dapat SMS nih dari mas mentor, tapi masih belum paham. Mentoring pertama kita kapan sih? Kita diwajibkan bawa apa saat mentoring? Oia btw, Antum itu siapa sih? Emang teman satu kelompok mentoring kita ada ya yang namanya antum? Kok di SMS-nya, dia menyebut antum-antum gitu?”
B: “Nah, udah jelas gitu lho. Ntar setelah salat tarwih kita mentoring. Kita disuruh bawa Al Quran. Antum itu ya Kamu.”
A: “Hoo.. Trus kalo aku ntar gak bisa gimana dunk? “
B: “Udah dijelasin juga kan, kamu bisa ijin ke ketua kelompok mentoring kita.”

Cerita #4: Cewek < Wanita < Akhwat

Suatu ketika di acara reuni SMA.
Paijo : “Eh bro, si Ranti, vocalist cewek di Band kita, sekarang udah jadi Akhwat lho”.
Darsuji : “Hah? Maksudnya? Bukannya cewek sama akhwat itu artinya sama-sama wanitanya ya?”
Paijo : “Beda bro. Gak semua cewek itu akhwat.”
Darsuji : “Bedanya apa bro?”
Paijo : “Ya kalo akhwat itu cewek yang alim banget. Penampakannya dan Perkataannya sangat meneduhkan. Kayak si Ranti yang sekarang tuh. Setelah dibina di asrama, dia berubah ya. Memang sesuai dengan selogannya kok, Creates Future Wives #eh.”
Darsuji : “Oh gitu ya. Mau dong bro, adikku yang cewek dibina. Supaya bisa mendapat sebutan akhwat gituu”.

Cerita #5: Iktikaf Yuk

Seusai salat tarwih bersama, Goweng mengajak temannya, Kenyuk, untuk beriktikaf bersama. Dia menyilakan Kenyuk untuk mampir istirahat di rumahnya yang dekat dengan masjid besar. “Nyuk, istirahat di rumahku aja. Ntar kita langsung berangkat iktikaf di masjid.” “Afwan Weng, ane pulang bentar. Ada yang kurang afdol dengan penampilan ane.”. “Bukannya kamu sekarang sudah pakai busana muslim, sarung, dan peci hitam ya. Sudah wangi lagi. Kurang afdol apa lagi coba?”. “Afwan, ada sesuatu yang kurang”. Akhirnya Si Kenyuk memutuskan untuk balik ke rumahnya yang jaraknya sangat jauh dari masjid besar.

Mereka bertemu saat iktikaf di Masjid Besar..
“Assalamu’alaykum Weng. Nah, ini yang ane maksud.” Sambil menunjukkan baju gamis putih + surbannya. “Coba cium baunya deh, beda dengan yang tadi kan?!” Dia menunjukkan wangi dari parfum Timur Tengahnya. Goweng menjawab kagum, “Iya bro, auranya serasa di Timur Tengah”.

Beberapa cerita di atas, telah saya atau teman saya alami. Saya merasa aneh dalam proses pencarian cahaya Islam. Dalam hati terkadang saya bertanya, saya ini sedang belajar agama Islam apa belajar budaya Timur Tengah? Mulai dari koversi beberapa kosa kata bahasa Indonesia yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, sampai pakaian yang cenderung berkiblat ke gaya timur tengah. Seharusnya, jika kita resisten dengan budaya kapitalis barat guna mempertahankan budaya kita, maka kita juga resisten dengan budaya Korea dan Timur Tengah. Saya yakin, penerapan nilai Islam sebagai jalan hidup yang sebenar-benarnya ini dapat diterima oleh umat dengan latar belakang perangkat budaya manapun. Tidak terkecuali dengan perangkat budaya Indonesia. Karena nilai-nilai Islam terlalu besar jika harus diidentikkan dengan perangkat budaya Arab.

Jika kita ingin belajar bahasa Arab untuk memahami Al Quran dan Hadist, kita bisa mengambil les intensif di lembaga bimbingan belajar ataupun mengikuti kajian belajar bahasa arab. Itu lebih efektif daripada nge-mix kosa kata bahasa Arab dan Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Bukankah bahasa Arab di Al Quran sedikit berbeda dengan bahasa Arab di percakapan sehari-hari. Teman saya yang berketurunan Arab pernah menyampaikan, sebenarnya Ane, Ente, itu adalah bahasa Arab Sasak.

Akulturasi merupakan cara pendakwah dalam menyampaikan nilai-nilai Islam. Wali Songo misalnya. Ulama salaf (terdahulu) ini menyampaikan cahaya Islam di Indonesia melalui metode akulturasi dengan budaya Jawa. Tidak heran, ukiran kayu, wayang, blankon, dll tergambar kuat dalam histori penyembaran agama Islam di Indonesia. Oleh karena nilai-nilainya dapat diterima, sangat banyak masyarakat yang bebondong-bondong masuk Islam. Begitupun Muhammad Cheng Ho yang menyebarkan Islam ke kalangan etnis Tiong Hoa. Beliau memadukan keindahan corak budaya China dalam karya-karyanya.

Saya salut dengan cara dakwah PPSDMS, institusi yang merubah pola pikir saya. Citra yang ditampilkan tidak sama sekali menggunakan simbol-simbol “tertentu”. Yang dipromosikan adalah nilai-nilai Islami yang luhur, seperti Kepemimpinan, Integritas, Kemampuan Berkomunikasi, dll. Tak heran, saya dan beberapa kawan yang berasal dari kalangan hedonis sekalipun pada saat itu tertarik untuk memasukinya.

Begitu juga dengan Komunitas Pemuda Nasional, Forum Indonesia Muda. Saya paham nilai-nilai yang diajarkan di sana adalah nilai Islam. Namun, itu dibungkus dengan cara yang sangat memasyarakat. Misalnya, salam khas FIM yang tidak menyentuh antara laki-laki dan perempuan, atau adanya forum motivasi diri setelah salat subuh, dll. Bukankah itu semua nilai Islam.

Tidakkah kita ingat kekuatan dakwah AA Gym kepada umat lintas agama saat kerusuhan di Poso. Setelah itu banyak yang mendapatkan hidayah dan masuk Islam. Begitu juga ustad Felix Siauw yang berdakwah dengan bahasa-bahasa anak muda. Tidakkah kita sadar betapa masifnya inspirasi yang diberikan Mario Teguh. Inspirasi-inspirasi itu berasal dari Quran dan Hadist yang dibungkus dengan sangat mulus, sehingga dapat diterima oleh seluruh kalangan umat Islam, bahkan nonislam, dengan tingkat pemahaman yang beragam.

Sampaikan kebaikan sesuai dengan bahasa kaumnya dan kapasitas intelektualnya.

Saya pernah bertanya, apakah penggunaan kata-kata seperti “Akhi, Ukhti, Antum, Tafadhol” itu merupakan sunnah Rosul. Namun agaknya, jawabannya tidak sesuai dengan hati nurani saya. “Ah, itu mah cuma bahasa akhi. Terserah orangnya dunk.”. Bahkan ada jawaban miring seperti, “Itu bahasa surga akh, kita sedang berikhtiar untuk mempelajarinya.” Please deh, enak kali orang arab udah nguasain bahasa Surga sejak balita. Ada jawaban yang cukup berbobot, “Itu sebagai perekat ukhuwah (persaudaraan), Akh”. Saya masih bertanya, seharusnya hal yang mempererat ukhuwah adalah Kesamaan Aqidah dan Visi Bersama. Apa kita harus menjadi homogen dalam hal berbudaya juga agar ukhuwah dapat lebih erat? Dan jika para pendakwah asyik dengan bahasa mereka sendiri, bagaimana mereka bisa mengajak objek dakwah yang belum paham mengenai bahasanya.

Kawanku yang dirahmati Allah. Setelah menduplikat lambangnya, Zionis dapat mengidentikkan dirinya dengan Yahudi karena paham Yahudi sangat identik dengan lambang Yahudi. Apa kita ingin Islam hanya diidentikkan dengan lambang-lambang kita? Kawanku, mari kita tunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang bermanfaat bagi setiap insan. Kita sampaikan nilai-nilai Islam melalui setiap tindak-tanduk kita. Kita tunjukkan integritas dan kasih sayang kita, kita buktikan bahwa solusi islami merupakan solusi terbaik. Itu lebih bermakna daripada sekedar pencitraan secara simbolik. Dengan bahasa atau budaya apapun, kita bangga beridentitas Islam dan akan lebih bangga jika dapat mengamalkan nilai-nilai Islam. (/dew)

CMIIW (Correct Me If I’m Wrong). Sebagai saudara seakidah, sewajibnya kita saling mengingatkan. Mohon ingatkan jika saya salah. Oleh karena malam ini sudah 1 Syawal, saya memohon maaf sebesar-besarnya atas kesalahan dan keterbatasan ilmu saya. Terima kasih.

One thought on “Karena Islam bukan Sekedar Simbol

  1. […] MOHON JANGAN ngeLIKE atau berKOMENTAR sebelum SELESAI MEMBACA Artikel ini copas dari blog yang bagus banget : https://dewa18.wordpress.com/2012/08/18/islam-bukan-sekedar-simbol/ […]

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s