Reorientasi Berprestasi

Dalam menyampaikan pesan, seorang mahasiswa yang biasa-biasa saja tidak akan setara dengan sosok mahasiswa peraih medali emas internasional. Begitu juga pidato seorang Ketua Himpunan akan berbeda dengan seorang mahasiswa biasa. Meskipun, keduanya menyampaikan hal yang sama persis. Itulah hakikat dari prestasi. Berprestasi dapat meningkatkan nilai pengaruh seseorang. Dengan demikian, seseorang yang berprestasi dapat jauh lebih bermanfaat bagi orang lain.

Akan tetapi, akhir-akhir ini terdapat kesalahan dalam memaknai prestasi. Sejak awal, beberapa para peraih prestasi mendasari pencapaiannya dengan motivasi yang kurang tepat. Mengejar kebanggaan, menambah baris di CV, atau sekedar mencari popularitas belaka. Itulah beberapa orientasi berprestasi yang jauh dari benar.

Mengapa harus benar dalam berorientasi?

Ibarat pisau, jika motivasi penggunanya benar, maka pisau dapat digunakan untuk mengiris bahan-bahan masakan. Akan tetapi, jika motivasi penggunanya salah, maka pisau bisa menjadi barang yang berbahaya. Prestasi-prestasi yang kita raih hakikatnya seperti saat kita mengasah pisau. Semakin banyak prestasi yang diraih, semakin tajam pisau yang kita asah. Orang berprestasi adalah orang yang berpengaruh di bidangnya. Banyak sorotan mata untuk mencari inspirasi dari dirinya. Jika motivasinya salah, bukan inspirasi yang diberi, melainkan malah prasangka buruk atau rasa ill feel, bahkan bisa menyesatkan.

Selain itu, motivasi dalam berprestasi yang benar tidak menjadikan kita sia-sia dalam berusaha meraih prestasi kita. Seyogianya, orang yang berprestasi dapat memberikan perubahan positif di lingkungannya melalui pengaruhnya. Jika kita berorientasi hanya pada perolehan kebanggaan atau pengakuan dari orang lain saja, maka akan sulit bagi kita untuk berdampak lebih. Sebaliknya, jika kita berorientasi untuk berperan dalam memberi perubahan positif, maka capaian-capaian kecil seperti rasa bangga, pengakuan, popularitas akan secara otomatis mengikuti kita.

Prestasi adalah konsekuensi dari sebuah kontribusi. Jika berorientasi untuk berkontribusi dengan sebaik-baiknya, maka prestasi bisa saja dengan mudah mengikuti. Ditambah lagi, orientasi untuk berkontribusi akan menjadikan diri kita fokus pada kebaikan bersama, bukan sekedar capaian pribadi.

Sebagai contoh, sosok mahasiswa yang ingin berkontribusi di berbagai bidang. Perlombaan, organisasi, aksi sosial, forum nasional sering ia ikuti. Motivasinya sederhana, ia ingin menjadikan dirinya terlibat aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan berbangsa. Saat mengikuti kompetisi Mahasiswa Berprestasi, tidak terasa ia tertolong dalam penilaian kegiatan ekstrakulikulernya. Setali tiga uang, ia tidak hanya ingin meraih nilai kegiatan ekstrakulikulernya, di balik itu, kebermanfaatan bagi lingkungan tempat dia berkontribusi telah ia berikan.

Harapannya, dengan memiliki orientasi berprestasi yang benar, tidak hanya kepuasan individu saja yang kita raih, tetapi juga kebermanfaatan yang bisa dirasakan oleh sesamanya. Karena hakikatnya prestasi adalah tanggung jawab lebih bagi kita untuk bisa lebih bermanfaat bagi sesama. (/dew)

Rahadian Dustrial Dewandono

Mahasiswa Berprestasi II ITS 2012

Menteri Komunikasi dan Informasi BEM ITS 2011/2012

One thought on “Reorientasi Berprestasi

  1. Karena motivasi yang kurang tepat pula, banyak orang yang tidak mengikuti passion mereka, tapi mengikuti passion orang lain agar terkesan “keren” :)

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s