Belajar Efektif ala Prof. Daniel M Rosyid

392546_459246687429371_534276064_nSubhanallah, inspirasi yang saya dapat hari ini (15/9) sungguh istimewa. Saya berkesempatan menjadi pembicara bersama salah satu tokoh besar ITS yang benar-benar inspiring bagi saya. Beliau adalah Prof Daniel M Rosyid, Guru Besar dan Pakar di bidang Teknik Perkapalan, Inspirator, sekaligus Entrepreneur di ITS.

Kami berkesempatan berbicara di depan sekitar 2000 mahasiswa baru ITS dan ITK dalam acara Grand Opening Mentoring ITS. Bagi saya kesempatan ini merupakan ladang dakwah yang sangat luas. Syukur-syukur saya bisa berbagi inspirasi dengan adik-adik maba terkait pentingnya dan begitu dibutuhkannya program mentoring kesilaman bagi mahasiswa. Ditambah lagi ini merupakan kesempatan berdakwah bersama sosok guru inspirasional ini.

Tujuan diadakannya talk-show ini adalah agar mahasiswa baru ITS paham bahwa mentoring keislaman dapat membentuk karakter prestatif. Dengan demikian, tumbuh sebuah kesadaran dari benak mahasiswa baru untuk giat mengikuti mentoring keislaman.

Saya bercerita mengenai sedikit pengalaman transformasi dalam diri saya. Saya dulu adalah seorang yang suka dengan gemerlap dunia dan cenderung jauh dari cahaya islami. Dan itu semua bisa sedikit demi sedikit berubah karena berkumpul dengan orang-orang yang bertaqwa. Timbul pertanyaan yang sangat menampar diri saya, “10 tahun ke depan, jika saya sudah menjadi Bapak, apakah saya siap untuk membimbing anak-anak dengan kualitas pribadi yang seperti ini???”. Pertanyaan itulah yang mendorong saya untuk memperbaiki diri. Memperbaiki diri yang efektif adalah dengan berkumpul bersama orang-orang sevisi, salah satunya melalui mentoring keislaman. Kami saling mengingatkan dan menguatkan dalam hal kebaikan. Semoga istiqomah ke depannya. Amin. (khusus apa yang saya sampaikan, insyaAllah saya buat di pos baru).

Saya tidak hanya sebagai pembicara di sini. Saya juga mendapat banyak inspirasi dari Bapak Daniel. Beliau banyak bercerita mengenai konsep belajar efektif ala beliau. Belajar efektif dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dalam bangku perkuliahan saja, tetapi juga bisa diterapkan dalam mentoring, organisasi, ataupun kegiatan bermasyarakat. Rumus beliau simpel. Belajar Efektif itu 4M : Membaca, Menulis, Mempraktikkan, dan Mendiskusikan.

Membaca

Membaca adalah salah satu metode untuk menyerap ilmu. Dengan membaca kita bisa memperlebar cara pandang dan dapat memahami permasalahan yang kita hadapi dengan solusi yang holistik. Dengan membaca pula, kita dapat lebih peka akan variabel-variabel yang mempengaruhi suatu fenomena. Bukankah membaca juga merupakan wahyu pertama yang diterima oleh Rosul?

Membaca sebelum kuliah merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar di kampus. Mahasiswa memasuki kelas tidak dengan pemahaman yang kosong terkait materi yang disampaikan. Dengan membaca, mahasiswa akan mengetahui apa yang disampaikan oleh dosen di kelas. Akan didapatkan suasana kelas yang lebih dinamis jika mahasiswanya sudah membaca.

Membaca juga bisa diartikan dengan lebih luas, yakni membaca situasi. Sebelum kita bertindak atau memutuskan sesuatu, seharusnya kita telah membaca dari seluruh aspek yang mempengaruhinya. Dengan demikian, keputusan atau tindakan yang kita berikan bukan merupakan tindakan reaktif belaka, melainkan tindakan yang benar-benar didasari oleh ilmu.

Menulis

Ya, ini merupakan momok beberapa pemuda sekarang. Entah kenapa, budaya menulis yang baik sangat jauh dari kebiasaan pemuda. Padahal, tidak mereka sadari, mereka yang kecanduan sosial media itu juga menulis. Tinggal dipermak sedikit, tulisan mereka dapat menjadi lebih berkualitas.

Mengapa menulis merupakan salah satu komponen penting dalam belajar efektif? Menulis dapat memaksa otak kita mengingat-ingat kembali pengalaman atau ilmu yang telah kita serap. Dengan menulis kita juga mendokumentasikan ilmu-ilmu itu agar suatu saat kita dapat menyerapnya kembali melalui tulisan pribadi.

Jika gajah mati meninggalkan gadingnya, maka diharapkan manusia mati meninggalkan karyanya. Salah satu karya ideologis yang dapat diabadikan adalah tulisan kita. Tulisan merupakan mesin otomatis yang bekerja tanpa mengenal lelah dalam menyebarkan inspirasi-inspirasi positif. Dengan tulisan pula, kita memperkuat proses penyerapan ilmu dan kemudian menyebarkannya.

Mempraktikkan

Jika tulisan adalah hanya sebuah wacana, maka bentuk konkretnya adalah dengan tindakan nyata. Praktik, praktik, dan praktik. Bayangkan saja, seorang mahasiswa Jurusan Teknik Informatika yang hanya membaca dan menulis mengenai bahasa Java. Dia tidak bisa menyerap ilmunya dengan efektif karena belum dia implementasikan melalui praktik. Begitu juga mahasiswa kedokteran yang hanya membaca dan menulis saja. Bisa jadi, dia tidak akan menjadi dokter, melainkan hanya sekedar pengamat di bidang kedokteran. :D

That’s why, mempraktikkan apa yang kita pelajari hukumnya wajib jika kita ingin menyerap ilmu secara sempurna. Di Islam pun, konsep Iman ada tiga: Diyakini dalam hati, Diucapkan dengan lidah, dan Diterapkan dalam tindakan. Proses belajar efektif akan sia-sia tanpa penerapannya dalam suatu tindakan yang nyata.

Mendiskusikan

Budaya diskusi merupakan budaya postif yang harus ditanamkan dalam dunia pendidikan bangsa Indonesia. Dengan berdiskusi, secara otomatis dibutuhkan kemampuan untuk menyampaikan gagasan. Untuk menyampaikan gagasan, dibutuhakn kapabilitas tertentu terkait gagasan yang akan disampaikan. Membaca, menulis, dan mempraktikkan merupakan cara-cara membangun kapabilitas tersebut.

Diskusi juga merupakan jembatan pertukaran ilmu. Proses belajar mengajar akan berjalan lebih efektif jika antara penyampai dan penerima materi terdapat diskusi dua arah. Penyampai materi akan paham mengenai hal apa saja yang belum dimengerti oleh penerima materi. Begitupun penerima materi dapat meningkatkan penyerapan ilmu dengan menanyakan hal-hal yang belum ia ketahui.

Sungguh, ilmu sederhana namun nyata ini benar-benar menginspirasi. Memang Prof Daniel benar-benar super. Ya, saya suatu saat ingin menjadi dosen plus-plus seperti Prof Daniel, kalo bisa melebihi beliau (amin). Menjadi dosen yang peduli dengan pengembangan diri dan pembentukan karakter mahasiswa-mahasiswanya. (/dew)

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s