Saat Diri Bermetamorfosis

Sekeras-kerasnya batu karang, masih dapat terkikis oleh ombak lautan. Sekeras-kerasnya watak manusia, masih dapat dibentuk oleh konsistensi usaha dan niatan serta lingkungan yang terkondisikan. Semua hal di dunia ini pasti berubah dan tiada satupun yang kekal. Perubahan bersifat kekal dan kekekalan hanyalah milih Allah semata.

Saya sangat meyakini bahwa perubahan itu sangat mungkin. Pengalaman pribadi lah yang memperkuat keyakinan saya akan hal itu. Anugrah Allah yang terbesar bagi saya adalah kesempatan untuk mengalami perubahan yang luar biasa. Kesempatan terjerumus dalam lembah kebaikan, kesempatan digembleng dalam kawah peradaban, kesempatan untuk mengetahui jalan kebenaran, kesempatan untuk bermetamorfosis menuju fase yang tercerahkan.

Masa Pencarian Cahaya

Setiap insan bisa jadi memiliki zaman saat dirinya berada di zona kegelapan. Saat jalan lurus yang teramat terang tertutup oleh tirai besar duniawi berupa kenikmatan sesaat. Pada masa ini, mereka memiliki dua pilihan: merasa nyaman menikmati zonanya atau berusaha sekeras tenaga untuk keluar dari kotak dan mencari jalan lurus yang sesungguh-sungguhnya. Pastinya hasil dan konsekuensi antara kedua pilihan itu sangatlah berbeda.

Saya pernah mengalami masa kegelapan. Saat saya mengejar kesenangan-kesenangan yang bersifat temporer, saat saya memakai kaca mata kuda sehingga menganggap bahwa jalan saya adalah yang paling benar, saat saya berada di titik yang jauh dari cahaya suci hidayah dari Ilahi Robbi. Namun, saya sangat beruntung Allah masih memberikan pagar penyelamat sehingga saya tidak terjerumus terlalu dalam.

Jaman itu adalah saat saya duduk di bangku SMP, SMA, dan di awal kuliah. Saya dulu adalah anak band, gitaris tebaik malahan. Dream Theater, Steve Vai, Joe Satriani, dan sederet band dengan lead gitar populer telah saya kuasai. Hmm.. Tahu kehidupan anak band, kan?! Cangkrukan, show-off, arogansi adalah hal yang lumrah di kalangan saya pada waktu itu. Saya dulu juga tergabung dalam geng motor. Betapa bangganya saya saat berkumpul bersama kawan-kawan geng motor. Membicarakan hal-hal yang sangat jauh dari berarti. Belum lagi saat menyapa geng motor lain yang sedang lewat. Betapa bangganya masa-masa itu.

Salah satu Aksi Gitar saya dulu. Betapa bangganya saya dulu saat tampil di panggung. :D

Memasuki kuliah, saya sempat berkumpul dengan kawan-kawan aliran hedonisme. Hang-out ke mall, nonton bioskop, atau makan di restoran elit bukan merupakan hal yang aneh di kalangan saya. Saat selesai jam kuliah dan tidak ada tugas yang kami lakukan adalah jalan-jalan ke Mall terdekat. Menunggu diputarnya film dalam waktu terdekat. Lalu kami nonton deh. Jauh dari budaya produktif kan?!

Segala bidang saya masuki, kecuali bidang kerohanian. Saya tidak pernah mengikuti Lembaga Dakwah sama sekali, baik di SMA ataupun di Kampus. Parahnya, saya sempat memandang sebelah mata para aktivis lembaga tempat berkumpulnya orang-orang bertaqwa ini. Saya sempat mengira mereka terlalu eksklusif dan sulit untuk membaur dengan lingkungan. Walhasil, saya sempat antipati dengan kegiatan-kegiatan yang mereka adakan. Ya itulah pemikiran sempit saya karena belum tergabung di dalamnya. Astagfirullah..

Saya tidak membahas haram-halalnya musik, pun tidak mempermasalahkan budaya berkumpul. Saat ini saya juga masih suka musik dan saya pun tidak anti-Mall. Saya hanya menggambarkan betapa jauhnya saya dari jalan yang benar. Ditambah lagi komunitas yang benar-benar tidak mampu mengondisikan. Saya sangat bersyukur karena Allah masih menyelamatkan saya. Orang tua juga berperan dalam memberikan filtrasi dari kebiasaan yang tidak benar. Alhamdulillah, saya tidak sampai ikut-ikutan merokok, berjudi, ataupun melakukan budaya-budaya bobrok lainnya.

Berawal dari Sebuah Renungan

Suatu saat saya melihat poster PPSDMS di mading himpunan. PPSDMS, saya tidak paham seperti apa pembinaan di dalamnya. Saya hanya mengerti banyak orang-orang sukses yang menjadi mahasiswa berprestasi ataupun petinggi-petinggi organisasi di KM ITS adalah keluaran dari PPSDMS. Keingintahuan itu mendorong saya untuk mencari informasi lebih dalam terkait PPSDMS.

Wah, ini pembinaan semi-militer, Dik. Setiap hari kamu digembleng, diwajibkan sholat malam, diwajibkan ngaji, dll. Itulah beberapa tanggapan saat saya tanya kepada senior terkait seperti apa PPSDMS itu. Ya, hal itu membuat saya bimbang. Saya sangat tertarik dengan pembinaan kepemimpinannya. Namun, saya sangat tidak suka sebuah rutinitas yang membosankan, apalagi dikekang. Hadewwh..

Hal itu juga membuat saya sering merenung. Semua berkas sudah saya siapkan, tinggal surat rekomendasi dari senior. Tinggal mengirim. Saya masih ingat, malam itu adalah hari H-2 dari deadline pengumpulan berkas. Dan saya masih bimbang. Sangat jauh dari pesaing-pesaing saya yang sangat bersemangat untuk mendaftar PPSDMS. Wew.

Saya terbayang, setelah saya lulus, saya mencari kerja. Kemudian saya berkeluarga. Nahloh, jika saya sudah menjadi Bapak, namun kualitas diri masih seperti ini, bagaimana saya bisa dianggap pantas menjadi Bapak. Saya butuh berubah. Ya, tidak lucu jika anak-anak saya kelak dibimbing oleh Bapak dengan kualitas diri sebobrok ini. Belum lagi istri saya. Apa bisa saya menjadi pembimbing yang baik bagi istri saya kelak. Sholat subuh saja saya masih sering telat. Astagfirullah.

Bayangan itu menjadi gaya pendorong dengan kekuatan milliaran Joule. Gaya pendorong yang menjerumuskan saya untuk nekad ikut seleksi PPSDMS. Hari berikutnya, saya menghubungi senior yang sudah tergabung di PPSDMS untuk meminta rekomendasi. Kamu daftar PPSDMS?! Celetuk senior itu. Hehehe, sudah bisa ditebak. Muka-muka preman gini mau daftar pembinaan para kader dakwah?! Ya, siapapun pasti akan terkejut.

Allah Memudahkan Proses Pencarian Hidayah-Nya

Saya tetap mengikat erat komitmen untuk berubah di benak saya. Saya teringat kisah Umar bin Khattab. Beliau adalah mantan preman, bahkan nyaris membunuh Rosullullah. Dan beliau sadar ketika mendengar dua ayat awal surat Thaha. Beliau kemudian berubah menjadi rekan dakwah Rosullullah. Ya, dengan sedikit menyemangati diri saya camkan dalam-dalam kisah Umar itu sembari terus mengikuti proses pendaftaran.

Subhanallah. Tahap demi tahap saya lalui. Sampai tahap presentasi. Saat itu saya benar-benar merasakan bantuan Illahi ketika secara acak saya mendapat topik tentang Teknologi Informasi dan Komunikasi. What?! Ini kan bidang saya. Begitu mudahnya saya menyusun materi dan strategi presentasi. Alhamdulillah saya akhirnya lolos sampai tahap akhir.

Saya sangat bersyukur mendapat anugrah kesempatan untuk berbenah diri. Saya sangat bersyukur dipersaudarakan dengan rekan-rekan berkualitas tinggi. Saya sangat bersyukur setiap hari memperoleh motivasi dan siraman rohani. Ya Allah, inilah salah satu anugrah terindah yang pernah hamba miliki.

Konsistensi kualitas taqwa sangat perlu dijaga. Saya sangat takut mengalami futurisasi iman sampai-sampai keluar dari lingkaran orang-orang beriman. Setangguh apapun saya, masih butuh nasihat dan pancaran energi positif untuk mengingatkan dan menguatkan saya dalam hal kebaikan. Oleh karena itu, strategi yang saya pakai adalah lebih mengakrabkan diri dengan kalangan orang-orang yang beriman.

Hidayah Harus Dicari

Sampai saat ini saya sangat percaya. Pemberian Hidayah Allah ke hamba-Nya bisa diibaratkan dengan pemberian upah Juragan ke budak sahayanya. Sangat sulit bagi seorang budak untuk mendapatkan upah, jika tidak ada usaha untuk mendapatkannya. Sangat sulit bagi seorang hamba untuk mendapatkan hidayah, jika tidak ada usaha untuk mencarinya. Oleh karena itu, jangan selalu salahkan karena belum diberi hidayah oleh Allah. Yang butuh hidayah itu sebenarnya kita atau Allah?!

Pemberian hidayah adalah karena Ridho Allah. Allah, Sang Maha Bijak, tidak akan salah dalam memberi hidayah. Allah akan melihat seberapa besar usaha kita untuk mencarinya. Hal itu murni dari kesadaran pribadi kita. Ingat kisah paman Rosul?! Betapa khusyuknya Rosul mendoakan agar paman beliau mendapat hidayah, namun Allah belum mengizinkannya. Ya, karena paman Rosul tidak memiliki usaha untuk mencarinya.

Saya merasa sangat bersyukur mendapat anugrah kesempatan ini. Saya benar-benar ingin berbagi rasa syukur ini kepada sesama. Alhamdulillah, saya berkali-kali dipercaya untuk mengisi pelatihan di berbagai jurusan. Puncaknya adalah saya dipercaya menjadi pembicara di Grand Opening Mentoring bagi 2000-an mahasiswa baru. Saya sendiri heran, saya ini tidak pernah ikut Lembaga Dakwah Jurusan (LDJ) atau Lembaga Dakwah Kampus (JMMI ITS), tiba-tiba mendapat kepercayaan sebesar itu. InsyaAllah, ladang luas dalam berdakwah ini akan saya manfaatkan untuk menyeret kawan-kawan yang masih sulit menerima cahaya Islam.

Semoga kita, para pencari hidayah ini, selalu dikarunai keistiqomahan dalam berjuang. Semoga Allah mempermudah proses kita untuk memperbaiki diri. Amin. :) Selamat mencari cahaya ilahi, selamat mengalami metamorfosis diri. :)

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s