My Graduation: Behind the Scene

Tak terasa air mata membasahi pipi. Teringat masa demi masa selama 4 tahun ke belakang. Masih ingat dengan jelas saat menginjakkan kaki di kampus perjuangan sepuluh nopember. Masih ingat dengan jelas perjuangan mengerjakan praktikum sampai tengah malam. Masih ingat dengan jelas rapat himpunan membahas program kerja dan kaderisasi mahasiswa baru siang malam tiada henti. Masih ingat dengan jelas perjuangan pemenangan kampanye presiden BEM 2011/2012 meskipun sempat menjadi public enemy. Masih ingat dengan jelas hampir tiap hari menginap di lab untuk menyelesaikan Tugas Akhir. Kenangan-kenangan indah itu tercampur aduk ketika petugas membacakan doa penutup prosesi Wisuda 105 ITS. Maka nikmat Tuhan manakah yang kita dustakan?!

Saya merasakan betapa besarnya bantuan Allah selama 4 tahun mengenyam pendidikan S1. Saya diterima melalui jalur PMDK mandiri atas bantuan dana dari Pak De saya. Saat daftar ulang mahasiswa baru, saya masih ingat saat itu saya tekagum-kagum dengan kemegahan kampus perjuangan ini. Begitu beruntungnya saya diterima di kampus teknik unggulan di negeri ini, jurusan paling favorit lagi. Alhamdulillah. :)

Awal masuk kuliah, saya begitu tidak pede melihat keadaan. Entah kenapa, saya merasa anak daerah yang terlalu cupu memasuki kampus sekaliber Teknik Informatika ITS. Persetan dengan OSPEK, persetan dengan angkatan. Toh saya bukan orang yang penting di sana.

Sedikit demi sedikit Allah menggiring saya untuk terlibat aktif. Pada beberapa kesempatan yang tidak disengaja, saya berkesempatan dekat dengan para punggawa angkatan. Rasa nyaman dan dibutuhkan kian menguat. Sampai-sampai saya diamanahi menjadi ketua TC Cup, proker terbesar angkatan pada saat itu. Ya Allah, pemberian pertolongan-Mu benar-benar nyata.

Tahun pertama adalah tahun terberat bagi mahasiswa Teknik Informatika ITS. Dua praktikum langsung ditelan mentah-mentah. Materi praktikum benar-benar baru bagi saya. Duh, rasanya sangat sulit untuk bisa memahami logika demi logika pemrograman. Hadeehh.. Alhamdulillah saat itu saya mendapat kelompok dengan orang yang luar biasa. Dari sana saya dapat belajar banyak dan akhirnya paham. Sedikit ilmu itu bisa menjadi modal saya terpilih sebagai asisten dosen dan asisten praktikum selama 4 semester.

Saat diamanahi sebagai Wakil Ketua HMTC, waktu seakan-akan dipersempit. Rapat, temu warga, membuka acara, sesi dengan maba menjadi rutinitas yang harus dilalui. Kesempatan belajar dan memahami materi kuliah sedikit terbengkalai. Di kondisi seperti itu, Allah tetap memberikan bantuannya. Saat itu saya berkelompok dengan kawan-kawan yang tidak terlalu disibukkan dengan organisasi dalam penyelesaian beberapa proyek akhir mata kuliah. Kami harus bisa saling beradaptasi. Ketika saya sibuk dengan organisasi, mereka bisa mengambil peran. Ketika saya longgar, saya juga wajib memberikan peran maksimal. Alhasil, proyek akhir pun tidak ikut terbengkalai.

Pernah merasakan dimusuhi banyak orang karena kita menjadi pribadi yang berbeda? Saya pernah. Hal itu saya alami ketika saya memutuskan untuk mendukung salah satu calon di Pemira ITS. Nampaknya, rival dari calon yang saya dukung adalah figur yang prominen. Banyak ketua himpunan yang dapat terpengaruh olehnya.

Bayangkan, 3 ketua himpunan melawan 17 ketua himpunan. Saya bersama kawan-kawan seperjuangan saat itu menjadi musuh bersama. Atmosfer tidak nyaman sering kami rasakan. Tidak jarang kalimat-kalimat ejekan terlontar. Saya saat itu yakin bahwa yang saya dukung adalah nilai-nilai kebaikan yang dibawa oleh calon. Saya tidak pernah sedikit pun ditawari sebuah jabatan. Itulah yang menjadikan diri saya tegar menghadapi atmosfer tidak sedap saat itu.

Secara logika, kemenangan pasti di pihak sebelah. Betapa besar pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Calon yang saya dukung memenangkan pemira hanya selisih 25 suara dengan total 6000 suara dari rivalnya. Subhanallah.

Mei 2012 adalah masa-masa paling sibuk. Ada 4 perihal besar yang sedang berada di puncak stresnya. Mei adalah deadline pengerjaan Tugas Akhir bagi yang ingin diwisuda ke-105. Kondisi TA saya masih tak terurus semenjak saya memutuskan untuk menunda kelulusan di wisudah ke-104 untuk berkontribusi di BEM ITS. Wew, salah saya juga sebenarnya.

Selain itu, Gerakan Indonesia Bersinar yang sudah menjadi gerakan masif meminta haknya untuk diperhatikan. Mei adalah puncak dari gong-gong besar Gerakan Indonesia Bersinar. Seminar Nasional Dahlan Iskan dan Goris Mustaqim, Lomba Nasional, dan Kegiatan-Kegiatan akbar lainnya diselenggarakan di bulan Mei. Waktu pengerjaan TA jadi sedikit tersedot untuk bisa fokus menangani Gerakan Nasional yang kami inisiasi ini.

Mei juga saya dikabari jika saya lolos seleksi International Islamic Workshop di Teheran Iran. Saya punya mimpi, saya harus berangkat ke luar negeri sebelum saya lulus. Dan inilah kesempatan emas saya. Bulan mei saya juga disibukkan untuk mencari sponsorship sebanyak-banyaknya untuk biaya tiket pesawat dari Indonesia ke Iran.

“Benar ini Rahadian Dustrial Dewandono?! Selamat Anda lolos 3 besar Mahasiswa Berprestasi ITS. Persiapkan diri Anda untuk bertanding di grand final Mawapres ITS” What?! Kenapa harus di bulan yang sama. Saya harus merevisi Karya Tulis mawapres, saya harus menyiapkan sertifikat guna penilaian Kegiatan Ekstra Kuliluker (KEK), dan segala pernak-pernik kebutuhan mawapres saya harus sempurnakan di bulan Mei. Ya Allah, bagaimana nasib TA-ku?! T.T

Sampai saya menghadapi fenomena yang meyakinkan saya bahwa kebaikan itu adalah energi positif yang kekal dan akan berbalik. Betapa sayangnya Sang Maha Penyayang kepada diri saya. Ia memudahkan prosesi penyelesaian Tugas Akhir saya. Mulai dari dosen pembimbing yang tidak terlalu mempersulit, masalah teknis pemrograman yang ada saja jalan keluarnya, sampai prosesi sidang akhir yang tidak terlalu rumit. Ya Allah, begitu indahnya kemudahan yang Engkau karuniakan kepada hamba.

. . .

Petugas pembaca doa mengakhiri doanya. Saya baru merasa, ya saat ini saya sudah diwisuda. Saat ini saya mendapat gelar Sarjana Komputer. Saat ini saya telah bersumpah untuk mengabdikan diri demi bangsa dan almamater. Saya ingin sekali berteriak gembira untuk menggambarkan rasa syukur saya itu. Tidak hanya kegigihan dalam diri semata, namun bantuan Allah sangat berperan dalam perolehan status sarjana selama 4 tahun ini. Semoga perjuangan 4 tahun tersebut tidak berakhir dengan ditambahkan S.Kom. pada nama panjang saya. Amin :)

2 thoughts on “My Graduation: Behind the Scene

  1. Evanescence Mania

    mas…
    saya mau nanya…
    sebenernya saya ingin masuk ITS…
    tapi bingung keadaan…
    mata pelajarannya itu susah apa gampang??
    ditambah lagi, biaya spp dll di ITS kan besar…
    jadi saya harus bagaimana???

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s