Menuju Siap Finansial 2013 (part 1)

Bagi saya, kondisi diri yang layak untuk menjemput jodoh adalah yang siap secara spiritual, finansial, intelektual, dan emosional. Baiklah, pada pos kali ini izinkan saya berbagi rencana konkret saya dalam menuju kondisi siap secara finansial 2013. Meskipun dengan menikah pintu-pintu rezeki akan dibuka oleh Allah, kita tidak boleh gegabah dalam menyiapkan kunci pembuka pintu-pintu rezeki itu. Hal itu harus disiapkan dengan matang, karena sekarang ini sudah H-1 tahun.

Tolok ukur sukses finansial saya adalah saya mampu membiayai pernikahan saya, mengajak istri terbang ke Jerman, mengurus akomodasi di sana, serta menyiapkan modal guna menghidupi keluarga di sana kelak. Belum lagi harus menyiapkan tabungan yang cukup untuk alokasi pengeluaran yang tidak terduga-duga. Memang tidak main-main nominal yang harus saya siapkan. Untuk itu, saya harus berikhtiar mencari nafkah dengan lebih giat.


Budget Pernikahan

Kebutuhan pertama adalah budget tentang pernikahan. Sebenarnya orang tua saya sudah menyiapkan anggaran terkait hal itu. Namun, saya kok malu ya, merasa karena terlalu sering saya merepotkan beliau berdua dengan meminta dana. InsyaAllah saya bisa mandiri terkait hal ini. Jika orang tua membantu, itu saya anggap sebagai bonus.

Harapan saya sih bisa mengadakan pernikahan yang jauh dari menghambur-hamburkan pengeluaran tak tepat guna. Banyak tips untuk menghemat biaya pernikahan. Salah satunya yang saya pernah baca adalah pada blog ini. Tinggal kesepakatan kedua belah pihak untuk memilih strategi jitu menyelenggarakan pernikahan yang hemat dan tetap memorable.

Let’s say, secara penghitungan kasar, ongkos konsumsi sekitar 15 juta, dekor, undangan, dsb 2,5 juta, Yah, sekitar 18 juta lah. Saya benar-benar mengejar untuk bisa menabung sebesar itu.

Mengajak Istri ke Jerman

Sebenarnya saya juga belum tentu berangkat ke Jerman. Tapi, prinsip saya, saya selalu menvisualisasikan mimpi saya melalui tulisan, status. tweet, dll agar tertanam optimisme tingkat tinggi dalam mindset saya. Jika Allah mengizinkan, saya akan berangkat ke Jerman sekitar bulan Oktober tahun depan, dalam kondisi sudah menikah. So, saya tidak ingin menelantarkan bidadari yang saya telah ikat. Saya akan mengajaknya pergi mengadu nasib di Jerman,

Kebutuhan kedua adalah mengajak istri ke jerman. Beasiswa S3 FastTrack DIKTI yang saya terima berkemungkinan tidak bisa membantu untuk membiayai pemberangkatan peserta di luar program. Oleh karena itu, saya harus menyiapkan kemungkinan terburuk, jika DIKTI tidak menyediakan biaya tambahan. Jika Allah mengizinkan, yang saya ajak ini bukan peserta FastTrack, jadi saya wajib menyiapkan biaya sendiri.

Berdasarkan informasi harga tiket pada situs ini, tiket pesawat one-way yang paling murah dari Jakarta ke Berlin sekitar $950. Jika dikonversikan ke nilai rupiah, sekitar 9,5 juta rupiah. Mahal juga ya ternyata. Ke Iran kemarin saya kena 8 juta, itu pun round-trip. Selain itu biaya untuk Visa Schengen, asuransi, dll harus disiapkan. Yah, habis googling bentar di situs ini, saya nampaknya harus menyiapkan sekitar 4 juta untuk visa saya bersama istri.

Menghidupi Keluarga di Jerman

Juga katanya mbah Google, biaya hidup di Jerman sekitar 400-600 Euro perorang. Jika saya dan istri bisa menghemat, insyaAllah bisa ditekan sampai sekitar 700 Euro untuk dua orang. Ya, sedikit menekan pola hidup konsumtif. Banyak cara kok, yang jelas harus memasak sendiri di rumah. Konsumsi adalah pengeluaran harian paling banyak. Pokoknya istri harus bisa masak sebelum berangkat ke Jerman !!!. Kalo dia gak mau belajar, ya terpaksa saya yang harus belajar memasak. Hehe..

Beasiswa yang saya terima ini tidak sebesar Erasmus Mundus, DAAD, atau sejenisnya. Isunya, DIKTI hanya menyediakan sekitar 850 Euro perbulannya. Saya tidak berharap terlalu banyak pada isu yang katanya juga mendapat biaya riset per bulan. That’s why, saya harus menabung mulai dari sekarang untuk memastikan dapur mengepul.

Pengeluaran Mendadak

Selain hal-hal yang dapat direncanakan, saya juga harus menyiapkan dana guna pengeluaran yang sifatnya mendadak. Misalnya, jika terjadi apa-apa dan mewajibkan pulang ke Indonesia, maka dana ini bisa digunakan untuk membeli tiket PP dari Jerman ke Indonesia. Banyak hal diluar perencanaan kita yang terkadang butuh dana yang cukup besar.

So, kalo ditotal-total lagi, jumlah kebutuhan untuk 2013 nanti minimal sekitar 30 juta. Wow. Angka yang sangat besar sekali. Yah, semoga Allah membantu disetiap tantangan yang saya hadapi. Bersama kesulitan pasti ada kemudahaan.

. . . (bersambung ke strategi menuju siap finansial 2013 part 2) . . .

NB :

Tujuan saya mengepos ini adalah untuk memotivasi diri sendiri agar lebih bersemangat mencapai target. Selain itu, saya ingin berbagi pengalaman dan rencana dengan harapan bisa membantu rekan-rekan yang mengalami kegalauan yang sejenis. InsyaAllah postingan saya jauh dari rasa membangga-banggakan diri ataupun riya’. Jadi, mohon dengan sangat doa dari rekan-rekan sekalian agar Allah memudahkan kita semua. Amin :)

One thought on “Menuju Siap Finansial 2013 (part 1)

  1. […] pos kali ini, izinkan saya melanjutkan pos mengenai Strategi Menuju Siap Finansial sebelumnya. Pada pos sebelumnya saya me-reng-reng kebutuhan finansial apa saja yang mungkin saya hadapi. […]

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s