Yuk jadi Insan yang Ihsan

“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan….”
(an-Nahl: 90)

Ihsan secara harfiah berarti berbuat baik. Sebutan ini dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa menuai kebaikan. Mereka adalah manusia-manusia yang beriman, beramal salih sebagai manifestasi imannya, dan gemar mengerjakan kebaikan guna menuai beribu kebermanfaatan tanpa mengharap balasan dari manusia sedikitpun. Mereka melakukan hal-hal yang dapat membuat Allah menyukainya.

Ihsan merupakan tingkatan di atas Islam dan Iman. Orang dapat disebut berislam jika menjalankan 5 rukun Islam. Orang bisa disebut beriman jika mempercayai akan 6 rukun Iman. Orang baru dapat disebut Insan yang Ihsan jika beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, jika tidak melihat-Nya maka merasa bahwa Allah melihat dirinya (HR. Muslim). Betapa mulianya gelar ihsan ini.

Untuk menjadi insan yang ihsan, terdapat beberapa tahapan: beriman, beramal salih, serta menjaga agar amalnya tidak batal. Dibutuhkan niat. usaha keras, dan konsistensi dalam rangka mengembangkan diri untuk dapat meraih predikat Ihsan.


Beriman

Semakin bertambah keimanan seseorang, semakin taat kepada Tuhannya. Apa sih kaitannya antara beriman dengan berbuat sebuah kebaikan? Hal tersebut dijelaskan pada surat Al Anfal 55.

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman” (QS Al Anfal: 55)

Allah memakai istilah binatang dikarenakan oleh sifat-sifat binatang yang sangat buruk. Betapa buruknya kondisi para insan yang tidak beriman di mata Allah. Jika mereka tidak beriman, maka seluruh nasihat yang berisi mengenai kebaikan tidak akan mampu menembus tabir kekafiran mereka.

Perlu dipahami, bahwa kebaikan merupakan suatu hal yang mutlak. Kebaikan yang dimaksud direferensikan kepada kitab Allah dan hadist rosul. Dan hal ini yang nampaknya tidak disukai kaum liberal. Mereka menalar kebaikan sesuai dengan pemikiran mereka.

Kebaikan seseorang dapat diukur melalui kadar keimanannya. Semakin beriman dia, seharusnya semakin banyak kebaikan yang dapat ia torehkan.

Beramal Salih

Amal dan iman merupakan dua sejoli yang tidak dapat dipisahkan. Orang yang beriman namun tidak beramal salih, maka dapat disimpulkan bahwa dia merupakan kaum munafik. Orang yang beramal namun tidak memiliki landasan iman, maka dia adalah kaum kafir. Semua amal mereka sia-sia di mata Allah.

Beramal adalah satu-satunya cara untuk mengkonkretkan keimanan kita. Kita percaya kepada Allah, konsekuensi logisnya adalah kita menunaikan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Kita harus yakin bahwasanya seluruh perintah dan larangan Allah berujung pada suatu kebaikan.

Larangan makan babi misalnya. Ada ilmuwan berpendapat bahwa makan babi berbahaya karena disebabkan kandungan cacing pitanya. Semisal, terdapat teknologi laser yang dapat menyeterilisasi kandungan cacing pita pada babi, apakah makan babi bisa jadi halal? Tidak!! Karena sesungguhnya bahaya cacing pita adalah satu dari sekian ribu bahaya yang sudah diketahui oleh manusia. Masih banyak bahaya-bahaya lain yang belum diketahui oleh manusia.

Inilah pentingnya implementasi “sami’na wa athokna”, kami mendengar dan kami melakukan. Saat hidup di dunia ini bukan saatnya bagi kita untuk menghabiskan energi untuk mempertanyakan mengapa Allah melarang suatu hal. Jika ilmu kita dapat meraih jawabannya dan itu berdampak signifikan terhadap kadar keimanan kita, maka tidak masalah. Namun, jika ilmu kita sangat terbatas, maka bisa jadi kita meragukan syariat Allah. Padahal, membenci satu saja syariat Allah dapat membatalkan seluruh amalan kita. Astagfirullah..

Menjaga agar Amalan Kita tidak Batal

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. (QS Muhammad: 33)

Saking cerobohnya kita, sampai-sampai kita lupa bahwa kita dapat membatalkan sebagian atau seluruh amalan salih kita. Terdapat tiga hal yang dapat membatalkan amal-amal kebaikan kita: Murtad, Memamer-mamerkan Amal, dan Mengungkit-ungkit Amal.

Keluar dari Islam merupakan dosa yang paling besar. Orang yang murtad akan mengalami kerugian yang besar karena seluruh amal-amalnya dihapus oleh Allah. Dan jika dia menghabiskan sisa hidupnya dalam kondisi tidak Islam, bisa dipastikan dia tidak membawa bekal saat memasuki alam kubur.

Pamer amal atau riya’ merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Penyakit ini dapat menyerang seluruh kalangan dari orang-orang yang sedang beramal salih. Jika terjadi, maka fatal akibatnya. Pamer amal akan merusak pahala dari amalan-amalan salih kita. Dengan demikian, begitu sia-sia kita jika beramal tetapi terdapat motivasi untuk dipamerkan kepada orang lain.

Hal ketiga yang membatalkan amalan adalah mengungkit-ungkit kebaikan. Allah benci dengan orang yang mengingatkan saudara seimannya bahwa dia pernah melakukan kebaikan terhadap saudaranya tersebut. Jika itu dilakukan, maka pahala dari amalan salih itu akan hilang. Secara otomatis dia akan membatalkan amalan yang diungkit-ungkitnya. Naudzubillah..

Oia perlu dipahami, mungungkit-ungkit tersebut adalah kepada manusia. Jika mengungkit-ungkit amal kepada Allah, maka itu disebut dengan tawassul. Melakukan tawassul diperbolehkan dalam syariat Islam.

Semoga dengan beriman, beramal salih, serta menjaga amal-amal kita agar tidak batal, kita dapat meraih predikat sebagai insan ihsan. Semoga kita selalu dikarunai kesempatan untuk berbuat dan menuai kebaikan tanpa berharap sedikitpun dari manusia. Aamiin :) (/dew)

*terinspirasi dari kajian rutin kamis sore masjid besar Manarul Ilmi ITS

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s