Strategi Anti-Galau Menanti #Pray42013

Ya Allah, betapa lemahnya hati hamba-hamba-Mu ini. Betapa kuatnya keinginan untuk segera menggenapkan hati. Betapa tidak sabarnya kami menanti datangnya sang penentram hati. Betapa khawatirnya kami akan segala ketidakpastian yang akan terjadi. Semoga segala usaha memperbaiki diri, doa, serta kepasrahan ini selalu kami landasi dengan niatan hanya untuk Mu, ya illahi Robbi.

Sepenggal bait di atas adalah sebuah interaksi antara seorang hamba kepada Robnya. Manusia memang identik dengan makhluk yang lemah. Sekuat-kuatnya hati manusia, ia pasti memiliki titik fraktur pada beberapa kondisi tertentu. Saat mencapai fase pada titik tersebut, dibutuhkan peran dari keimanan dan kedewasaan berpikir untuk memperkuat diri. Jika gagal, maka kondisi futur dan lemah iman yang akan menghantui. Naudzubillah.

. . .

Galau, kata yang sangat populer terdengar di telinga kita. Kata ini juga ditafsirkan dengan banyak versi. Mulai dari galau akan dilema, galau dengan masalah pribadi, sampai dengan galau untuk menyempurnakan separuh agama. Tafsiran galau yang terakhir itulah yang paling populer di tengah kalangan pemuda seumuran saya. Dalam ilmu psikologi rasa galau merupakan kombinasi dari rasa sedih dan/atau rasa khawatir. Rasa Sedih karena pengalaman yang kurang menyenangkan di masa lalu dan rasa khawatir akan ketidakpastian di masa yang akan datang.

Rasa galau tidak selamanya negatif. Dengan merasa galau, kita akan merasa semakin butuh sandaran untuk meluapkan segala bentuk kegalauan kita. Dalam Islam, tidak ada sandaran yang paling layak untuk disandari kecuali Allah ta’ala. Saat galau, seharusnyalah seorang Muslim menyampaikan seluruh kegalauannya kepada Sang Pembolak-balik Hati.

Galau yang bahaya adalah galau yang teramat sangat. Parameter batasan aman kadar kegalauan adalah jika rasa galau yang kita rasakan tidak merusak produktifitas kita, maka bisa dipastikan rasa galau kita dalam batas wajar. Namun, jika produktifitas kita mulai terusik dengan datangnya kegalauan tertentu, maka itulah yang dimaksud dengan galau yang berbahaya. Galau seperti itu harus lekas ditangani.

Bagi saya pribadi, galau, khususnya galau untuk menyempurnakan separuh agama adalah salah satu fitrah manusia anugrah dari Allah. Tidak usah sok munafik untuk kuat mengingkari rasa itu. Tugas kita sebagai insan hanyalah adalah mengatur kegalauan kita agar masih sesuai dengan kadarnya. Karena menikah adalah ibadah, maka galau untuk segera menikah bisa dinilai sebagai ibadah.

Galau pada konteks ingin menikah lebih sering diakibatkan oleh kekhawatiran atas ketidakpastian di masa yang akan datang. Galau karena takut kita menaruh hati ke orang yang salah, galau dalam memilih dermaga cinta, galau karena khawatir perhatian yang kita berikan bertepuk sebelah tangan, galau karena tidak siap menerima penolakan dari calon tujuan sandaran hati, galau akan sulitnya untuk menjaga kemuliannnya jika tidak bersegera menikah, atau galau-galau semacamnya.

Saat ini saya juga bisa dikatakan sedang merasakan kegalauan yang jika dikuantifikasikan adalah sebesar 80% dari batas wajar kegalauan. Jika kondisi ini tidak ditangani dengan cepat, maka 20% lagi kegalauan saya menjadi kegalauan yang merusak dan merugikan. InsyaAllah saat ini meskipun hati sedang meletup-letup, saya masih dapat mengontrolnya.

Apalagi penyebabnya kalau tidak semangat hash-tag #pray42013. Rasa khawatir dihiasi dengan ketar-ketir, selalu menggerogoti ketangguhan hati dalam mempertahankan kesabaran untuk menanti.

Meskipun pada pos sebelumnya, saya pernah membuat rencana produktif pray42013, pada pos kali ini saya kembali memaparkan strategi untuk mengatur kadar kegalauan. Tahun 2013 akan menajdi tahun yang bersejarah bagi saya, kegalauan dengan bentuk apapun sangat tidak pantas untuk membarenginya.

Perbanyak Berdzikir, Berdoa, dan Amalan Harian

Kegalauan adalah masalah hati. Masalah hati harus didekati dengan obat hati. Menurut sunan Kali Jaga dalam lagu Tombo Ati-nya, salah satu obat hati adalah memperbanyak dzikir malam. Ya, sering-sering mengingat Sang Pencipta Hati dapat menentramkan hati yang sedang dilanda kegaluan tingkat tinggi.

Mungkin ini saatnya menyeterilkan isi hati dari segala sesuatu yang bersifat syubhat dan syahwat duniawi. Bukan berkeinginan untuk menjadi seorang sufi, melainkan berkebutuhan akan komtemplasi untuk mengingat kembali hakikat penciptaan diri.

Allah adalah Penganyom yang maha sempurna. Berdoa merupakan sarana yang disediakan Allah sebagai media untuk menyampaikan segala bentuk keluh kesah hamba-Nya secara langsung, tanpa perantara apapun. Allah, Sang Maha Mendengar, pasti tidak pernah bosan mendengarkan kegalauan hamba-hamba-Nya, meski disampaikan secara berulang-ulang. Apalagi jika keluhan tersebut kita sampaikan pada kondisi-kondisi waktu dan tempat yang lebih diijabahi.

Berdoa agar selalu dimantabkan hati. Berdoa agar dijauhkan dari segala bentuk rasa gundah gulana, khawatir, dan keragu-raguan. Berdoa agar tetap fokus memperbaiki dan menyiapkan diri untuk menjemput jodoh hanya karena-Nya.

Amalan harian dapat menjadi obat kegundahan kita. Menjaga amalan harian sesuai standar minimal dapat menjaga konsistensi iman. Galau yang tak terawat akan menyebabkan futurnya iman. Jika indikasi galau sudah mulai muncul di permukaan, maka lekaslah berhati-hati untuk menjaga konsistensi amalan harian. Jika amalan harian sudah mulai longgar, maka kondisi futur iman dapat dengan mudah mengisinya.

Sering Berkumpul dengan Kawan-Kawan yang Produktif

image

Masih teringat beberapa kawan asrama PPSDMS yang mengadakan kegiatan nonformal bernama Kajian Galau Pekanan (KGP), plesetan dari Kajian Islam Pekanan (KIP). Yang dikaji adalah strategi meraih hati calon istri idaman. Mulai dari cara membuat proposal yang menarik, cara menetapkan kriteria, cara mencari perantara, cara mendekati orang tua calon, sampai cara untuk mengkhitbah calon istri. He3, tahu banget ya saya. Ya, saya salah satu anggota aktif di forum KGP. #ups

Sebenarnya saya salah strategi. Pinginnya saya ingin berbagi kegalauan di sana dan syukur-syukur dapat menghilangkannya, eh malahan saya tambah galau lagi. Memang salah satu hal yang memperparah kadar kegalauan kita adalah berkumpul dengan kawan-kawan yang senasib namun tidak seperjuangan. :D Menikah adalah salah satu bentuk amalan muamalah konkret. Jika hanya dibahas-bahas saja sebagai wacana, maka hal tersebut akan menjadi sumber kegalauan. Wew

Berkumpul dengan orang-orang yang produktif dapat mengikis kegaluan. Kita akan merasa terkondisikan untuk mengerjakan hal-hal yang lebih bermakna daripada sekedar berangan-angan semu memikirkan kegalauan kita. Topik pembahasan kita juga terkait hal-hal yang jauh tidak menjurus ke potensi penyebab kegalauan. Sekuat dan setegar apapun kita, kita tetap makhluk sosial yang begitu dipengaruhi oleh orang-orang di sekitar kita. Jika pengaruhnya sangat positif, bisa jadi kita bisa ikut positif. Begitu pula sebaliknya.

Alhamdulillah, saat ini saya masih aktif berkumpul dalam beberapa komunitas produktif. Saya masih aktif di BEM ITS. Saat tidak di BEM pun, saya masih bertemu dengan orang-orang produktif di Laboratorium Pemrograman. Saudara-sauadara se-Liqo dan se-Pengajian juga memiliki semangat memperbaiki diri yang tinggi. Begitu juga dengan kawan-kawan yang menjadi partner mengerjakan tugas kelompok kuliah. Semoga dengan berkumpul bersama mereka, saya dapat meleburkan kegundahan saya ini.

Berolahraga

Saat kita galau berarti kita memiliki hal lain yang menjadikan pikiran kita difus. Apalagi diperparah dengan kondisi fisik yang gampang capek. Biasanya pada saat kondisi lemas kita lebih mudah untuk berangan-angan. Semakin galaulah kita jadinya.

Cara menjadikan pikiran kita kembali fokus adalah dengan menjadikan raga kita siap memilkul tugas-tugas beratnya. Olah raga solusinya. Eits, jangan remehkan manfaat dari olah raga. Dengan berolah raga secara rutin, fisik akan terlatih untuk melaksanakan tugas-tugas berat, daya tahan tubuh lebih kuat, dan pikiran lebih segar. Berolah raga dapat memperlancar peredaran darah menuju ke otak serta memperkuat otot-otot penyokong badan kita. Dengan demikian, kita dapat lebih energik dalam menghadapi segala bentuk tantangan hidup dan insyaAllah sedikit terbebas dari kemungkinan-kemungkinan kegalauan.

Berolah raga dapat dilakukan dengan banyak hal. Bisa dengan lari pagi, push-up, sit-up, renang, futsal, basket, atau fitness di gym. Saya sendiri saat ini serius mengikuti fitness di gym karena bisa lebih fleksibel dan mudah untuk mengatur jadwal berolah raga. Selain menyegarkan kondisi jiwa dan raga, saya juga berkeinginan untuk mengidealkan berat badan saya. He3. Jika tinggi saya saat ini adalah 176cm, maka berarti saya harus menurunkan minimal 3-4 kg lagi agar berat badan saya ideal. Harus bisa sebelum Februari 2013!! Semoga kesibukan berolah raga ini dapat berimplikasi positif terhadap diri saya dalam rangka meminimalisasi kegalauan menunggu datangnya sang penyempurna separuh agama.

Aktif dalam Proyek-Proyek Kebaikan

Riset Tesis S2 benar-benar menyita pikiran dan tenaga saya. Apalagi saya mendapat professor pembimbing yang benar-benar memiliki etos kerja yang tinggi. Saya harus dapat menyeimbangi beliau. Riset tesis yang saya ambil sejalur dengan apa yang saya implementasikan pada tugas akhir S1 saya. Saat ini saya fokus untuk mencari kontribusi apa yang bisa saya berikan dalam tesis saya nantinya. Memikirkan kontribusi tidak semudah menuliskannya di blog. Butuh memeras otak cukup keras agar bisa mencari ide dan solusinya.

Proyek Sistem Informasi Akademis Sang Juara School juga menghiasi file-file di komputer saya. Saya deadline diri saya sendiri untuk bisa menyelesaikan proyek ini sebelum semester 4 kuliah S2, artinya bulan Januari saya sudah harus memasuki tahap instalasi. Proyek ini saya ambil agar saya masih terbiasa dengan hal-hal teknis implementasi perangkat lunak di saat saya yang diharuskan untuk membaca ratusan konsep pada paper-paper di perkuliahan S2 saya.

Belum lagi hak-hak yang dituntut oleh mata kuliah yang saya ambil pada saat ini. Semua mata kuliah yang saya ambil adalah mata kuliah Topik Dalam. Artinya, pada masa akhir perkuliahan, saya diwajibkan untuk membuat paper baru. Wew, hal ini juga akan menyita banyak waktu dan pikiran. Saya sangat bersyukur mendapat kesibukan berupa proyek-proyek kebaikan tersebut. Dengan sibuk dalam hal kebaikan, insyaAllah waktu dan kesempatan untuk terjebak dalam keburukan semakin sedikit. Semoga hal ini dapat menghabiskan kesempatan saya untuk bergalau ria.

Penyegaran Kembali

Refreshing adalah salah satu hal yang juga dibutuhkan manusia. Apalagi setelah menghadapi kepenatan rutinitas sehari-hari. Otak dan hati butuh penyegaran setelah lelah memikirkan dan merasakan berbagai masalah. Inspirasi baru sangat dibutuhkan untuk kembali menjadikannya siap meladeni berbagai tantangan baru.

November ini saya berkesempatan untuk menghadiri 3 acara di 3 kota yang berbeda. Mengisi materi di Universitas Muhammadiyah Malang, mengikuti seminar ITS Business Summit di Jakarta, dan menghadiri resepsi pernikahan kawan di Bali. Wah, senangnya bisa sedikit relaksasi syaraf-syaraf otak yang mulai tegang.

Saya harap rencana refreshing di bulan November ini dapat membunuh segala ketidaknyamanan di hati selama menanti. Setidaknya saya akan mendapatkan banyak angin segar untuk menyemangati diri kembali.

Fokus pada Penyiapan untuk Menjemput Jodoh

Siap Finansial, Siap Intelektual, Siap Emosial, dan Siap Spiritual. Empat misi yang akan saya raih sebelum menjemput jodoh di bulan Juli 2013. Dengan giat dalam mencari nafkah, berapi-api untuk belajar, sabar untuk melatih emosi, dan bersemangat untuk meraih ridha Allah, saya akan dapat melupakan sedikit kegelisahan saya.

Bukankah memikirkan langkah-langkah konkret untuk meraih kesiapan dalam rangka menjemput jodoh jauh lebih penting daripada memikirkan jodoh itu sendiri?! Jika jodoh yang dipikirkan, boro-boro kondisi siap dapat diraih, yang ada mah galau-galau-galau dan galau. Sudah, saatnya fokus untuk memantaskan diri sebelum bertemu sang penggenap hati.

. . .

Proyeksi, Proteksi, dan Prestasi. Salah satu kata bijak yang saya coba untuk terapkan. InsyaAllah tulisan ini merupakan strategi proyeksi saya. Bismillah, saya dapat memproteksi diri dari segala gangguan yang tidak sejalur dengan proyeksi saya. Dan insyaAllah prestasi berupa pemenangan hati sang ukhti akan dapat saya raih. Bismillah #pray42013 !!! (/dew)

One thought on “Strategi Anti-Galau Menanti #Pray42013

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s